Sabtu, 15 Desember 2012

Siwaratri, Mari Berburu Kebaikan

Filsafat puja Siwaratri disampaikan Mpu Tanakung dalam media cerita si pemburu bernama Lubdaka. Lubdaka sendiri artinya pemburu. Dalam jagra Siwaratri sehari mulai Sabtu (28/1) malam ini, umat Hindu diharapkan mulat sarira (introspeksi) dan berburu (berbuat) atau mencari kebaikan.

ITU disampaikan Drs. I Putu Arnawa, S.Ag., M.Si. dan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Karangasem Dra. Ni Nengah Rustini, Jumat (27/1) kemarin di Bale Lembu Puri Gede, Amlapura. Arnawa yang juga dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Agama Hindu (STKIP AH) Amlapura itu mengatakan Mpu Tanakung sangat berhasil memasukkan filsafat Siwaratri ke dalam cerita Lubdaka si pemburu. Karena itu, umat yang awam kerap melaksanakan Siwaratri seakan-akan meneladani si pemburu Lubdaka yang secara tak sengaja mengikuti yoga semadhi batara Siwa. Pada akhirnya saat meninggal, si pemburu itu memperoleh swarga (surga). Kini, lanjut Arnawa, umat Hindu diajak melakukan perenungan, guna mencari hakikat hidup sebagai manusia. Usai melakukan perenungan dan memperoleh kesadaran tentang hakikat hidup ini, diharapkan umat mampu memperbaiki sifat dan perilakunya menjadi lebih baik ke depan. Jika itu berhasil dilakukan atau umat mampu memperbaiki perbuatannya diharapkan mampu mengurangi atau tak lagi melakukan perbuatan buruk (dosa).

Momentumnya tepat melakukan penyadaran diri, katanya, pada Siwaratri yang datang tiap tahun tepatnya pada purwaning tilem kapitu. Berdasarkan telaah kosmologis, hari itu merupakan malam tergelap selama setahun. Saat itu, Siwa turun ke dunia melakukan yoga semadhi, guna menghindarkan alam semesta beserta isinya dari kegelapan yang menghancurkannya.

Menurut Arnawa, sesungguhnya kita hidup adalah sebagai pemburu. Menyadari hakikat hidup itu sendiri, hendaknya umat Hindu memburu kebaikan. Seorang pelajar harus memburu ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Setelah mendapat ilmu, mereka mesti berburu (berlomba) mengamalkan ilmu itu untuk kebajikan. Seorang guru, selain terus memburu ilmu kebaikan juga mesti berlomba (berburu) mengajarkan ilmunya selain kepada siswanya juga kepada masyarakat luas. Seorang yang berporfesi sebagai pedagang dengan didasari ajaran kebenaran (agama), hendaknya memburu keuntungan. Harta dari keuntungan berdagang itu hendaknya digunakan memburu kebaikan, dan seterusnya.

Karena itu, dalam melaksanakan jagra Siwaratri hendaknya dilakukan dengan benar. Menurut pemilik Puri Gede Drs. AAB Ngurah Agung, pelaksanaan Siwaratri baik dilakukan seperti di tiap banjar. Usai persembahyangan bisa dilanjutkan membaca kitab suci, berdiskusi tentang keagamaan (hakikat hidup). Pelaksanaan puja Siwaratri tak cukup semata dengan begadang semalam suntuk, apalagi disertai cuma dengan hiburan bersifat hura-hura ditambah minum miras, ujar Ngurah Agung.

Sementara itu, Ketua Kelompok Belajar Sastra Bali di Banjar Telaga, Sibetan, Bebandem I Nyoman Jati, merencanakan mengajak ratusan siswanya mengapresiasi sastra Bali, seperti makidung, mengulas puisi bahasa Bali, serta masatwa Bali.

Darma wacana itu digelar Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Karangasem bekerja sama dengan lembaga lainnya. Kegiatan dalam rangka Dharma Prasanthi itu diikuti ratusan siswa, mahasiswa, dan pengurus organisasi kepemudaan di Karangasem. (bud)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar