Sabtu, 15 Desember 2012

Segehan

Om Swastiastu
Dari akarkatanya Segehan tergolong CARU yang sederhana, kata segehan berasal dari kata Suguh, yang artinya mempersembahkan, sedangkan caru artinya Manis (harmonis/mengharmoniskan). Bhuta Kala dari kaca spiritual tercipta dari akumulasi limbah pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, yang dipelihara oleh kosmologi semesta ini. Jadi segehan yang dihaturkan di Rumah bertujuan untuk mengharoniskan kembali kondisi rumah terutama dari sisi niskalanya, yang selama ini terkontaminasi oleh limbah yang kita buat. Jadi Caru yang paling baik adalah bagaimana kita dapat menjadikan rumah bukan hanya sebagai tempat untuk tidur dan beristirahat, tapi harus dapat dimaknai bahwa rumah tak ubanya seperti badan kita ini. Jika kita dapat merawat kebersihan dan kesucian badan ini tentunya SANG ROH yang mendiami badan ini akan merasa damai dan senang, begitu pula rumah jika kita pelihara kebersihan dan kesuciannya dengan selalu menjaga kemurnian pikiran, perkataan dan prilaku, maka tidak akan ada secuil Bhuta Kala pun dirumah kita, dan kita akan merasa aman dan nyama di rumah tsb, namun sebaliknya jika tidak dirawat lebih-lebih di rumah itu kita sering berpikir yang negatif, berkata -kata kasar dan bohong serta berprilaku yang tidak santun, apalagi dirumah sering diadakan SEMINAR (sekeha minum arak), Mabuk, Main (judi), Madon (WIL/PIL), Maling, Madat. sebesar sesering dan sebesar apapun segehan atau caru yang dihaturkan tentunya itu pekerjaan sia-sia.
Segehan dihaturkan kepada aspek SAKTI (kekuatan ) yaitu Dhurga lengkap dengan pasukannya termasuk Bhuta Kala itu sendiri. Menurut pendapat tiang, mesegelah dengan menggunakan makanan yang kita makan, kalau dirumah memasak cap cay, haturkanlah cap cay sebagai segehan. Namun sarana yang dimaksud oleh Pak Meranggi, juga ada artinya semisal Bawang itu bersifat dingin, Jahe  bersifat panas, dan garam bersifat netral, sedangkan alkohol adalah alat yang sangat efektif  dipakai untuk menetralisir bakteri, virus. makanya para dokter menggunakan alkohol sabagai alat sterilisasi.  Segehan dan Caru banyak disinggung dalam lontar KALA TATTVA, lontar BHAMAKERTIH. Kalau dalam Susastra Smerti  (Manavadharmasastra) ada disebutkan bahwa setiap kepala keluarga hendaknya melaksanakan upacara BALI (suguhan makanan kepada alam). dan menghaturkan persembahan ditempat tempat terjadnya pembunuhan, seperti pada ulekan, pada sapu, pada kompor, pada asahan pisau, pada talenan.
Jadi segehan/caru yang paling utama adalah menjaga kemurnian pikiran, ucapan dan prilaku, dengan berjapa, mekidung, dharma tula, dan meditasi tentunya.
membuat caru dengan daging saat ini sudah kurang relevan, apalagi dengan dalih untuk Nyomia dan Nyupat Bhuta Kala. Jangankan Nyupat Bhuta Kala,................Nyupat diri sendiri saja belum mampu.


http://www.facebook.com/ketut.swandana.1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar