Oleh : Agustin Rike Yuani (https://www.facebook.com/rike.yuani)
02 Maret 2012
00.10 WIB
Om SwastyastuMasih
terlintas ketidakpercayaanku akan keyakinan yang aku jalani sekarang
ini (hindu). Karena sejak kecil aku sama sekali tidak dibekali ajaran
leluhur (hindu) karena semua keluargaku beragama islam. 20 tahun
perjalanan hidupku menjadi seorang muslim (Agama pemberian orang tuaku).
Sampai memasuki umur 21 tahun akhirnya aku benar-benar mendapat suatu
petunjuk untuk meyakini bahwa hindu adalah jalan hidupku.
Sejak
kecil diriku sudah dikenalkan dengan lingkungan yang mayoritas muslim
tepatnya di Desa Kandangan Kediri Jatim. Apalagi rumahku tepat
bedampingan dengan mushola. Daerahku juga dekat dengan area religius,
pondok pesantren aliran NU (Nadhatul Ulama). Jadi tanpa ada rasa janggal
ataupun aneh, karena aku sudah terbiasa dengan lingkungan tersebut.
Aku
dibesarkan dari 3 bersaudara. Kakakku perempuan sedangkan adikku
laki-laki. Aku anak nomor 2 dari 3 bersaudara. Aku dan kakakku selisih 3
tahun sedangkan dengan adikku, aku selisih 4 tahun. Orang tuaku
menganggap aku adalah anak yang paling manja dari saudaraku yang lain.
Aku terbiasa hidup bersama kedua orang tuaku, memang sejak kecil aku
yang paling dapat perhatian lebih di banding saudaraku yang lain.
Mungkin bertepatan orang tuaku tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Kakakku lebih dekat dengan nenekku, sedangkan adikku terbiasa dekat
dengan budhe ku. Jadi ke-2 saudaraku lebih bisa mandiri dibandingkan
aku. Aku begitu sangat dekat dengan orang tuaku. Mungkin dari situlah
kepribadianku sedikit demi sedikit terbentuk menjadi anak yang manja.
Serasa ingin diperhatikan dan sangat sensitif.
Saat usiaku
beranjak umur 8 tahun aku dan saudaraku diajari orang tuaku cara sholat
yang baik itu seperti apa. Tapi aku termasuk anak yang paling bandel
sendiri diantara saudaraku. Kalau disuruh sholat dan mengaji aku tidak
pernah mau. Sampai-sampai dipanggilkan guru ngaji jebolan dari pondok
sekitar rumahku agar bisa membentuk keyakinanku. Sebenarnya aku
menginginkan orang tuaku yang mengajarkanku membentuk keyakinanku.
berhubung memang orang tuaku sangat sibuk dengan pekerjaannya, maka
dengan terpaksa aku mengikuti kemauan orang tuaku. Setiap sore guruku
mengajari sholat dan mengaji. Aku menurut saja memang aku tak paham apa
yang diajarkannya. Yang ku bisa hanya mengikuti apa yang dikatakan
guruku saja. Dalam hatiku malas untuk melakukan kegiatan rutin itu
sehari-hari , selain itu aku begitu tak semangat karena yang mengajar
orang lain bukan orang tuaku sendiri. Kadang kalau disuruh mengaji aku
selalu beralasan sakit, kalau mengingat masa kecilku dulu jadi ingin
ketawa.hehehehe. alasan yang tak bermutu.hehehehe. Aku merasa belajar
sholat dan mengaji setiap sore sangat menyita waktu bermain bersama
teman-temanku. Memang sejak kecil ajaran tentang keislamanku sangat
kurang. Sehingga aku tak paham apa yang sudah diajarkan guruku saat itu.
Sudah
5 bulan aku mempelajari tentang ajaran¬¬ islam. Sampai memasuki materi
tentang takdir, surga, neraka dan pahala yang sebelumnya belum ku
ketahui di usia yang belum cukup umur untuk mengenal semua itu. Yang aku
rekam dalam pikiranku saat itu adalah Guruku menjelaskan akan indahnya
bisa hidup dialam surga. Apapun yang kita mau semuanya akan terkabulkan,
jadi kalau ingin masuk surga kita harus selalu menjalankan perintah
Allah dan menjauhi segala larangannya. Sedangkan neraka adalah kebalikan
dari surga, semua orang-orang yang tidak menjalankan perintah Allah
akan diberi siksaan sepanjang masa serta kebanyakan yang jadi penghuni
neraka adalah kaum perempuan dan semua orang-orang kafir dimasukkan
neraka. Sejak itu Aku mulai takut dengan semua yang disampaikan guru
ngajiku. Dengan polosnya aku berupaya menuruti apa yang dikatakan guru
ngajiku. Aku rajin sholat dan rajin mengaji, Padahal sebelumnya aku
sangat malas kalau disuruh sholat ataupun mengaji.
Entah seiring
berjalannya waktu aku mulai bisa berfikir akan arti adanya Allah dalam
kehidupanku. Memasuki SMP aku berusaha menjadi anak yang taat dengan
orang tuaku. Apapun yang di sampaikan orang tuaku aku selalu menurut
meskipun aku jarang bersama orang tuaku tapi setidaknya komunikasi tetap
terjalin. Aku berusaha menjadi anak yang baik untuk semua orang. Karena
memang mulai awal SMP aku ikut suatu perkumpulan pengajian rutin di
daerahku. Jadi lingkunganku terbentuk menjadi lingkungan para muslimah
muda. Aku berusaha selalu ingin disegani oleh semua orang
dilingkunganku. Aku selalu taat sholat dan mengaji di mushola samping
rumahku. Aku berusaha membentuk keyakinanku tanpa bimbingan dari orang
tuaku. Aku sangat menikmati menjadi seorang gadis muslimah, mempercayai
semua yang diajarkan dalam keislamanku saat itu. Memang yang aku lakukan
itu semata-mata karena aku ingin membuktikan ke orang lain meskipun aku
jarang mendapatkan perhatian orang tuaku tapi aku tetap bisa membentuk
kepribadianku sendiri, selain itu aku juga ingin menyenangkan hati orang
tuaku karena aku sangat menyayangi kedua orang tuaku.
Awal
memasuki ajaran baru kelas 3 SMP aku dikenalkan dengan teman sekolah
kakak keponakanku yang selisih 2 tahun lebih tua denganku, dia kelas 2
SMA sebut saja dia Poeper. Dia pemuda hindu yang tinggal tidak jauh dari
rumahku kurang lebih jarak 4 km. Awalnya aku belum tahu kalau Poeper
beragama hindu, aku kira dia seorang muslim. Sebelumnya aku tak pernah
sedekat ini dengan orang lain. Aku merasa menemukan teman pengganti
orang tuaku yang jauh dariku. Setelah berteman dengan poeper aku merasa
nyaman berteman dengan dia karena kepribadiannya sangat supel dan baik
padaku. pertemananku dengan poeper mulai sangat dekat sampai akhirnya 22
agustus 2004 sama-sama memutuskan untuk berpacaran, meskipun dia
beragama hindu. Bagiku pacaran ini adalah masa-masa puberku, hanya
sekedar cinta monyet saja.
Saat berpacaran dengan poeper pertama
kali yang menentang hubunganku adalah orang tuaku. Karena alasan
keyakinan yang tidak seiman. Tapi aku berusaha memberikan pengertian
kepada orang tuaku kalau hubunganku ini adalah masa penjajakan. Aku
hanya ingin belajar mengenal dunia orang yang beda keyakinan. Awalnya
orang tuaku tetap melarangku kalau tetap berhubungan dengan poeper,
sampai aku nekad backstreet(pacaran diam-diam) hanya ingin lebih
mengenal poeper lebih jauh. Berjalannya waktu Orang tuaku berusaha
memahamiku meskipun dalam hati kedua orang tuaku sangat mengkhawatirkan
keputusanku ini (takut aku terpengaruh oleh poeper terutama dalam
masalah keyakinan).
Hubunganku dengan poeper berjalan 1 tahun
sampai aku memasuki bangku SMA. Aku se SMA dengan poeper. Ketika itu aku
masih kelas 1 dan dia kelas 3. Masih masa-masa kasmarannya.hehehehe.
aku masih berpegang teguh dengan keyakinanku. Karena memang teman
sekelasku boleh dikatakan alim. Sehingga sedikit demi sedikit aku
terpengaruh oleh temanku. Aku merasa senang dengan lingkungan yang
seperti itu, setidaknya bisa membantuku untuk lebih menguatkan
keimananku. Aku masih menjalankan kewajibanku sebagai umat muslim. Aku
sangat militan terhadap keislamanku. Meskipun aku dekat dengan poeper
yang berbeda agama tetapi dia sangat toleran sekali dengan keislamanku.
Setiap waktunya sholat dia selalu mengingatkanku, tanpa ada sedikitpun
rasa militan dari seorang poeper. Dia bisa menghargai umat lain. Aku
melihat poeper begitu flexibel, dia mampu menerima ajaran dari agama
manapun tanpa ada rasa fanatik. Yang buat aku salut padanya , dia sangat
berpegang teguh dengan kehinduannya. Memang dia terlahir dilingkungan
keluarga hindu militan yang memiliki rasa toleran tinggi. Aku sering
bertukar pendapat dengan poeper masalah agama. Aku sangat terheran-heran
kenapa poeper sedikit banyak sudah memahami tentang ajaran islam,
sedangkan aku sama sekali tidak tahu menahu soal ajaran hindu. Tanpa aku
sadari tenyata poeper sudah lama memahami ajaran islam. Hal yang aku
tahu, setiap jam istirahat sekolah poeper selalu menyempatkan waktunya
di perpustakaan, buku yang dibaca adalah buku tentang agama islam. Aku
pernah bilang ke poeper, “ emang boleh ya, orang hindu membaca buku
agama islam”, poeper menjawab “tentu saja,boleh. Tak ada yang melarang”.
Aku semakin bersemangat sekali menjalin hubungan dengan poeper karena
aku kira dia mau belajar agama islam dan mau berpindah agama demi aku.
Sedangkan aku sendiri sudah menutup pikiranku ”aku tidak boleh
mempelajari buku agama lain karena aku takut berdosa yang hanya boleh
aku pelajari adalah tentang ajaranku sendiri” (pikiranku yang masih
terselimuti oleh doktrin), kalau bisa poeper harus mau mengikuti
jalanku. Tapi semua dugaanku salah, poeper hanya ingin belajar
perbandingan agama. Aku sedikit kecewa dengan cara poeper, tapi semua
itu tidak mengurangi kerenggangan hubunganku dengan poeper.
Tak
terasa hubunganku memasuki tahun ke 2, aku merasa sangat nyaman berada
dekatnya. Sedikit demi sedikit aku mulai masuk di kehidupan keluarganya.
Memang baru menginjak tahun ke 2 aku memberanikan diriku untuk
menunjukkan diriku kepada orang tua poeper. Orang tua poeper menerimaku
dengan senang hati tanpa merasa ada rasa militan padaku. Aku merasa
nyaman masuk dalam kehidupan keluarga poeper. Tapi aku belum merasakan
kedamaian ketika masuk didalam keluarga poeper, ketika itu pemikiranku
masih terasa aneh saja masuk di keluarga hindu yang belum pernah aku
temui. Aku mulai mengenal kebiasaan keluarganya, kebetulan rumah poeper
berdampingan dengan pura. Pura Giri Nata Dusun Putuk-Kandangan
Kab.Kediri Jatim, jadi aku sering melihat orang hindu bersembahyang di
pura. Ternyata aku begitu awam melihat cara orang hindu bersembahyang.
bagiku sangat aneh dan diluar pemahamanku. Rasa fanatikku mulai muncul
ketika mengetahui cara orang hindu berdoa dan bersembahyang. Dalam
pikiranku “ patung kok disembah, sembahyang pakai dupa dan bunga haduh
benar-benar memuja setan” tapi aku masih sedikit memiliki rasa toleran
meskipun dalam hati merasa aneh. Aku merasa menutup pemahamanku tentang
hindu, karena aku tetap takut dosa kalau memiliki rasa ingin tahu akan
hindu. Aku tetap meyakini islam adalah ajaran yang paling benar. Aku
sempat bertanya pada poeper apa hukumannya buat orang hindu kalau keluar
dari keyakinannya, poeper menjawab” Tuhan di hindu tidak menghukum
umatnya, semua dari perbuatan manusia itu sendiri”.
Aku
menyimpulkan sendiri, “jadi hindu percaya akan hukum karma?? “ poeper
menjawab “ iya”. Poeper juga kembali memberi pertanyaan padaku “ apakah
di islam juga percaya akan adanya hukum karma?? Aku jawab “tidak” ,
poeper “kenapa”??? karena Tuhan menciptakan manusia hanya sekali, jadi
kalau manusia ingin memperbaiki perbuatannya harus di kehidupan
sekarang, karena Allah tidak akan menciptakan kehidupan mendatang. Yang
ada kehidupan sesudah mati yaitu alam barzah, manusia yang ada dialam
kubur akan dibangkitkan dan diadili karena perbuatan dikehidupan semasa
masih hidup. Semua itu akan bertepatan dengan datangnya hari kiamat.
Kelihatannya poeper melihatku tampak gugup, jujur saja aku memang merasa
gugup, takut kalau ditanya lagi aku tidak bisa menjawabnya. Poeper
mungkin tahu kalau aku tak bisa menjawab lagi kalau akan diberi
pertanyaan lagi, poeper hanya berkata padaku, “ karma akan melekat pada
jiwa manusia meskipun raga setiap manusia tidak mempercayai akan adanya
hukum karma”. Aku merasa kebingungan menjawab karena memang
pengetahuanku masih sangat kurang. Yang aku tahu hanyalah dogma yang
sudah melekat sejak kecil, takut akan kemurkaan Allah. Aku sangat ragu
dengan jawaban yang aku berikan pada poeper. Akhirnya aku mencari
informasi di buku-buku agama islam yang aku punya. Aku sama sekali tidak
menemukan hukum karma dalam ajaranku. Tapi aku berfikir secara logika,
“kalau di ajaranku tak mempercayai adanya hukum karma, tapi kenapa
banyak umat muslim masih mempercayai hukum karma”. Aku semakin tak yakin
saja melihat fenomena ini.
Saat aku memasuki ajaran baru kelas 3
SMA keimananku sedikit berkurang. Selalu saja ada masalah dalam
kehidupanku. Terutama masalah keluarga. Padahal sebelumnya aku begitu
sangat taat dengan ibadahku. Ketika aku mendapatkan masalah memang aku
selalu begitu. Tak pernah ada kedamaian hati dan pikiranku ketika sholat
ataupun membaca Al-Qur’an. Entahlah aku begitu capek dengan keadaanku
saat itu. Aku berusaha taat beribadah tapi semuanya terasa percuma. Aku
tak pernah sekalipun mendapat kedamaian dalam ibadahku. Rasa hambar
menyelimuti sholatku. Aku merasa terpaksa untuk melakukan sholat serta
membaca Al-Qur’an pun sudah tak pernah aku lakukan. Aku melihat
teman-temanku selalu mengajakku sholat disekolah setiap istirahat ke 2
dan selalu mengajakku berdiskusi tentang ajaran islam. Bagiku merasa
membuang waktu ku saja. Kadang kalau aku merasa bosan, aku sering absen
dari ibadahku. Tapi rasa takut tetap menyelimuti pikiranku kalau aku
meninggalkan ibadahku untuk sementara waktu. Rasa ini semakin hari
semakin membuat aku bertanya-tanya, kenapa harus selalu beribadah
padahal belum tentu ibadahku diterima oleh Allah. Rasanya Allah tidak
pernah mendengarkan doaku. Aku bertanya pada diriku sendiri “ apakah ini
memang takdirku diciptakan oleh Allah seperti ini??? rasa
bertanya-tanya dan penasaran menyelimuti pikiranku. Entahlah aku capek
sekali kalau memikirkan takdir ataupun cobaan dari Allah yang sudah
diberikan kepadaku. Selang beberapa lama , dipikiranku masih merasa
takut akan dosa. Aku tetap menjalankan sholat meskipun dalam hati tak
ada niatan untuk sholat. Aku Sangat terasa terpaksa sekali apa yang aku
lakukan ini. Poeper juga tak pernah bosan mengingatkanku untuk sholat
tepat waktu, tapi aku jarang meresponnya.
Sejak saat itu aku
mulai merasakan pergolakan batin dengan kehidupan yang aku jalani. mulai
dari aku mengalami masalah keluarga yang tak kunjung selesai, dan itu
benar-benar sulit untuk aku terima sampai aku sakit keras masuk rumah
sakit selama 3 minggu. Sementara waktu aku ijin tidak masuk sekolah. Aku
ingin menenangkan pikiranku. Aku merasa sangat putus asa , aku berfikir
Allah memang tak menyayangiku, Allah tidak adil padaku. “ takdir apa
yang direncanakan Allah untukku, sampai-sampai engkau begitu mengujiku”.
Sejak saat itu Aku sedikit ada penolakan jalan yang sudah diberikan
Allah padaku. Aku kembali mengingat apa yang dikatakan poeper, karma
akan selalu melekat dalam diri manusia, meskipun manusia tersebut tidak
mempercayai akan adanya hukum karma. Aku berfikir kembali menggunakan
logika ku, kalau memang Allah sudah menciptakan takdir manusia
berbeda-beda, tapi kenapa Allah masih seenaknya sendiri menghakimi semua
perbuatan manusia kelak dialam barzah??? Padahal sudah jelas-jelas
manusia diciptakan sesuai dengan takdir yang diberikan oleh Allah.
Misalnya saja sejak dalam kandungan ada seseorang sudah ditakdirkan oleh
Allah sangat miskin, sedangkan orang lain mendapatkan takdir yang
sangat kaya raya.
Si miskin binggung mencari nafkah untuk
melangsungkan kehidupannya sampai-sampai nekad mencuri, sebenarnya bukan
salah si miskin dia mencuri karena si miskin merasa memang ini sudah
takdir Allah sedangkan si kaya hidup serba bermewah-mewah dengan takdir
yang diberikan oleh Allah. Bukankah ini sangat tidak adil???? Aku
semakin ragu akan hakikat Tuhan dalam keislamanku. Mulai saat kejadian
itu aku jarang sholat. Aku mulai mempercayai akan adanya hukum karma.
Apa yang dilakukan manusia kelak, itulah yang akan dipetik dikehidupan
masa yang akan datang. Tapi aku tetap bimbang dengan rasa percayaku ini,
tanpa mempercayai semua itu aku tetap menjalankan aktifitasku seperti
biasa tanpa beribadah. Aku merasa sangat nyaman karena pikiranku tak
terbebani oleh kewajiban untuk selalu beribadah, biarlah aku dosa karena
meninggalkan ibadahku sementara waktu. Aku ingin menenangkan pikiranku.
Karena bagiku semuanya serasa seperti mainan. Pemikiran itu muncul
secara tiba-tiba ketika perasaanku merasa sedih dengan pergolakan batin
ini.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sedangkan UAN (Ujian
Akhir Nasional) akan berlangsung 1 bulan lagi. Hatiku terasa hampa
ketika aku kehilangan rasa spiritualku, aku mulai kebingungan, aku
merasa perlu perlindungan batin, perlu tempat mengadu. Aku merasa sudah
melupakan Allah dalam waktu lama. Akhirnya aku kembali memutuskan untuk
mau beribadah lagi, meskipun hati ini tak bisa menerimanya. Tapi
berusaha iklas semata-mata untuk kelulusan ujianku. Tepat UAN
berlangsung di bulan April, aku menyiapkan mental dan tenagaku untuk
berusaha yang terbaik agar mendapatkan hasil sesuai harapanku. 1 minggu
berlalu ujian nasionalku selesai, tinggal menunggu pengumuman 2 bulan
lagi. Bagiku waktunya begitu lama.
Kembali ke hubuganku dengan
poeper. Tak terasa hubunganku dengan poeper sudah berjalan 4 tahun.
Sebelum pengumuman ujian nasional poeper meminta izin orang tuaku untuk
mengajakku bertunangan. Aku merasa sudah siap untuk menjalani ikatan
dengan poeper. Aku merasa poeper adalah orang yang tepat untuk menemani
hidupku. Orang tuaku menyetujuinya mengingat hubunganku dengan poeper
sudah berjalan lama, bagi orang tuaku tidak etis kalau hubungan ku
dibiarkan terlalu lama kalau antara 2 belah pihak belum ada ikatan. Tapi
dilain sisi aku bisa merasakan keterpaksaan orang tuaku menerima
poeper. Karena calon pasanganku kelak adalah non muslim. Harapan orang
tuaku kalau bisa aku harus bisa membawa poeper menjadi umat muslim.
Jujur aku sangat terbebani akan semua itu. Tapi aku berusaha sedikit
melupakan apa yang dikatakan orang tuaku. Tepatnya 20 mei 2008 poeper
mengajak orang tuanya untuk bertemu dengan orang tuaku. Hari itu aku
sangat senang bercampur sedih. Tapi semua itu tak mengurangi
kebahagiaanku dengan poeper.
Pengumuman UAN semakin dekat,
semakin membuatku gelisah. Aku berusaha meningkatkan sholatku lebih giat
lagi. Setiap malam aku sholat tahajud agar aku bisa lulus ujian
nasional. Tapi entah apa yang aku lakukan sepertinya tidak mendapatkan
kedamaian ataupun mendapatkan hidayah dari Allah. Semua ibadahku serasa
hambar. Memasuki bulan ke 6 tepatnya 16 Juni 2008 hasil UAN ku di
umumkan, aku melihat namaku terpampang di papan pengumuman. Namaku
dinyatakan “LULUS”. Aku sangat bersyukur sekali, hatiku begitu gembira.
Tapi aku merasa apa yang kulakukan ini salah. Dalam hatiku “apakah
ketika aku mendapatkan suatu cobaan, aku baru ingat dengan Allah”,
“ketika aku merasakan kebahagiaan aku melupakan Allah”. Rasa bersalah
menyelimuti perasaanku. Tapi semua ini tak bisa kupikir secara logika,
semuanya terasa janggal.
Aku mulai memasuki perguruan tinggi
swasta di Kediri dengan statusku yang sudah bertunangan. Aku tetap
merasa percaya diri dengan statusku ini. Aku menutup diriku untuk setiap
cowok di kampusku, karena aku sudah berkomitmen. Aku hanya ingin
berteman saja tak lebih dari itu. Kebanyakan teman-temanku banyak yang
berjilbab. Karena memang didalam kelasku hampir semua perempuan,
laki-lakinya hanya ada 6 orang. Selain itu semua juga islam.
Aku
sudah terbiasa dengan lingkungan itu. Tapi aku tetap tak pernah
melaksanakan ibadah sekalipun. Aku sering jadi bahan omongan
teman-temanku karena jarang melaksanakan ibadah, tapi aku tipe orang
yang cuek dengan omongan orang. Bagiku biarlah orang berkata apa tentang
aku, yang penting aku enjoy dengan apa yang aku jalani saat itu. Sampai
aku dinasehati teman dekatku sendiri agar selalu ingat sholat.
Kata-kata meraka pun aku terima saja tapi aku tidak pernah meresponnya
seperti apa yang dikatakan poeper kepadaku. Dalam hatiku “ poeper saja
sering ngingetin aku untuk sholat nggak aku respon , apalagi kalian.
Boro-boro aku respon”.heheheheehehe. Aku merasa malas melakukan ibadah,
memang sejak saat itu aku sudah melupakan kewajibanku kepada Allah.
Sampai aku sering diomelin orang tua gara-gara tidak pernah menjalankan
sholat. Tapi tetap tidak kujalankan sampai-sampai sering berbohong hanya
gara-gara disuruh sholat. Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu.
Aku hanya ingin pikiranku terbebas tanpa merasa tertekan. Berusaha
membuang beban yang begitu mengikat pikiranku. Aku nyaman dengan yang
kujalani saat itu.
Bulan suci ramadhan Agustus 2008 pun telah
tiba, aku bimbang dengan perasaanku ini. Tapi aku tetap menjalankan
puasa meskipun batin ini begitu tertekan dengan kewajiban ini. Aku
serasa makin bertanya-tanya. Apakah yang aku lakukan ini semata-mata
karena hanya mengejar suatu pahala??? Sedangkan aku berfikir apa gunanya
pahala kalau aku hanya menjalankan puasa tanpa sholat. Jelas Allah
tidak menerima puasaku, sama saja puasaku sia-sia. Jadi, aku memutuskan
untuk tidak berpuasa saja. Aku pura-pura berpuasa ditengah-tengah
keluargaku dan teman-teman kuliahku. Kalau waktunya sahur bersama aku
ikut, kalau waktunya buka puasa bersama aku juga
ikut-ikutan.hehehehehehehe, karena takut ditanya macam-macam. Selain itu
aku juga merasa malu dengan keluargaku dan teman-temanku, masak udah
dewasa kok tidak puasa. Hehehehehehe. Saat itu semua yang aku lakukan
memang penuh kemunafikan. Tapi ya sudahlah, aku jalani saja selama aku
tak membuat masalah dengan siapapun.
Aku mulai masuk semester III sampai semester V saat dimana masih senang merasakan kenikmatan dibangku kuliah.
Tapi
entahlah sampai aku duduk dibangku sekolah sampai perguruan tinggi yang
selalu membuat aku putus asa adalah masalah keluarga. Aku selalu
terbebani dengan keadaan itu, kuliahku menjadi terbengkalai dan hanya
poeper yang selalu ada saat hidupku merasakan keterpurukan. Aku
melupakan segala kewajibanku sebagai umat muslim, melupakan ketakutanku
dan kewajibanku pada Allah. Dalam pikiranku “percuma aku beribadah tapi
selalu saja Allah memberiku cobaan tanpa henti”. Bukannya dengan sholat
Allah akan mengurangi cobaannya padaku, ini justru serasa makin hari
makin di berikan cobaan oleh Allah. Aku merasa sudah jenuh dengan
keadaan itu.
Memasuki akhir semester V aku memutuskan untuk
menempati kostku, karena sebelumnya aku kost tapi jarang aku tempati.
Karena orang tuaku jarang dirumah, sering berpergian keluar kota. Selain
itu poeper jg memutuskan transfer kuliah ke Jawa Tengah.
Aku
merasa putus asa tak punya siapa-siapa lagi yang bisa mengisi
hari-hariku karena ditinggal jauh oleh kedua orang yang sangat berarti
dalam hidupku. Aku merasa sendirian. Sejak saat itu Aku berusaha belajar
mandiri, berusaha menyikapi semuanya dengan kepasrahan. Lingkungan
kostku semua hampir memeluk agama islam dan ibu kostku beragama kristen.
Sejak saat itu aku mengaku agamaku hindu pada semua teman-temanku kost.
Karena memang sebelumnya teman-teman kostku tak tahu agama asliku, yang
tahu hanya satu orang teman kostku yang kebetulan sekelas denganku.
Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu sampai aku mengakui kalau
aku beragama hindu. Bagiku ini hanya buat senjata biar tidak digurui
oleh teman-teman kostku yang sebagaian besar alim-alim dan rajin dalam
beribadah. Ibu kostku juga tahu nya aku beragama hindu. Soalnya pada
saat kost dulu aku tidak menunjukkan KTPku karena yang bawa aku adalah
temanku satu kelas. Jadi ibu kost sudah percaya sama temanku itu.
Untungnya dalam lingkungan kostku teman-temanku tidak merasa fanatik
terhadapku. Tapi mungkin rasa fanatiknya tidak berani di tunjukkan
padaku. Hanya saja temanku yang membawaku sangat heran padaku, dan
bertanya kepadaku “sebenarnya agamamu apa sih???” , aku jawab dengan
tampang cengar-cengir “ ada deh, mau tau aja”. Mungkin temenku penasaran
sekali dengan agamaku, tapi aku biarkan saja daripada ditanya yang
macem-macem.hehehehhe. Aku serasa tenang dengan mengaku hindu. Serasa
tak ada tuntutan ketika aku beragama islam. Aku juga belum pernah
mempelajari ajaran hindu. Biarpun poeper kelak akan menjadi pelabuhan
terakhirku tapi sejak pacaran sampai bertunangan dia sama sekali tidak
pernah mengajarkanku akan ajaran hindu.
Hanya sedikit demi sedikit membantu membuka pikiranku yang sempit ini.
Sejak
poeper jarang dirumah, aku merasa tak punya teman. Akhirnya aku
berusaha mencari hiburan untuk diriku sendiri. Aku berusaha lebih dekat
dengan keluarga poeper. Bagiku keluarga poeper adalah pengganti poeper
saat jauh dariku. Setelah pulang dari kuliah aku sering berkunjung
kerumah poeper. Aku belajar memahami kehidupan keluarga poeper. Aku
merasa nyaman ketika aku masuk di lingkungan keluarga hindu, seperti
keluarga poeper. Aku merasa suasana seperti inilah yang aku cari sejak
dahulu, merasakan kedamaian yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Aku ingin merasakan kedamaian ini seterusnya. Akhirnya Aku memberanikan
diri meminta poeper untuk mau mngajarkanku ajaran hindu meskipun dalam
hatiku ada sedikit pemberontakan antara boleh atau tidak, dosa atau
tidak tapi aku tetap merasa ingin belajar agama hindu. Aku tidak
mempedulikan semua itu, karena aku ingin belajar dari kedamaian yang
diperoleh poeper dan keluarganya. Pertama kali poeper meminjami aku buku
berjudul UPADESA. Aku mempelajari satu persatu materi buku tersebut,
aku masih merasa awam dengan kalimatnya. Aku meminta poeper untuk mau
membimbingku agar aku bisa belajar step by step. Dan akhirnya aku paham
dengan isi buku upadesa.
Poeper juga mengajarkan ku cara
sembahyang, Aku senang sekali meskipun aku awam dengan cara
sembahyangnya. Setelah mempelajarinya aku di kenalkan poeper sebuah
video berserta teksnya, yaitu “MANTRAM GAYATRI”. Aku diberitahu poeper,
mantram gayatri ini adalah doa untuk sembahyang. Aku putar video itu
berulang-ulang dan aku benar-benar merasakan kedamaian, aku merasakan
beban yang aku rasakan menghilang ketika mantram gayatri aku dengar
berulang-ulang. Aku berusaha menghafal kalimat mantram gayatri per bait
sampai akhirnya aku menghafalnya. Dengan berjalannya waktu sedikit demi
sedikit aku bisa mengetahui dan memahami ajaran hindu. Tuhan di hindu
selalu ada dalam jiwa(atman) setiap manusia. Pikiranku mulai terbuka
pelan-pelan. Dari yang pemahamanku hanya islam lah agama yang paling
benar sekarang aku sedikit paham kalau hindu tidak lain juga mengajarkan
kebenaran. Agama yang mengajarkan toleran sangat tinggi, agama penuh
cinta kasih tanpa membedakan siapapun itu, dari mana asalnya, tidak
membenci sesama mahkluk (tat twam asi).
Aku membaca Bagawad gita
sampai akhirnya Aku menemukan sesuatu yang membuat hatiku sangat gembira
dan terharu yaitu dari sloka Bhagawad Gita (4:11) berkata “ Jalan
manapun yang ditempuh manusia untuk mendekati aku, dengan jalan itu aku
terima mereka;jalan manapun yang mereka pilih pada akhirnya mereka akan
mencapai aku”. Dalam hatiku, “ inilah yang aku cari” Aku sangat yakin
dengan sloka bhagawad gita ini. aku menyimpulkan bahwa Tuhan hindu
menerima semua ajaran selain hindu. Tuhan hindu tidak membedakan dengan
umat lain seperti “wahai umat hindu” , semuanya disebutkan untuk semua
mahkluk , tuhan hindu sangat adil tanpa membedakan dengan mahkluk
lainnya, Ajaran hindu tertuju untuk siapa saja karena hindu agama
universal, ajaran hindu juga mengajarkan toleransi yang sangat tinggi.
berbeda dengan ajaran islam, Tuhan dalam islam menyebutkan semua manusia
hanya umatnya saja seperti “wahai orang-orang yang beriman”, selain
menyembah Allah dikatakan kafir, selain umat islam halal darahnya, tak
ada toleransi dalam keimanan dan peribadatan. Disebutkan dalam surat
Al-Taubah ayat 13 dan Surat Al-Kafirun orang kafir patut diperangi, dan
masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang selalu disebutkan tentang orang
kafir.
Seolah-olah ada pembeda antara umat islam dengan umat
lain. Aku semakin ragu kenapa aku baru tahu kalau islam banyak
mengajarkan kekerasan?????? Kalau memang benar itu Tuhan yang berbicara,
kenapa mesti melakukan provokasi??? Sejak saat itu pula aku memikirkan
banyak kejanggalan dalam ajaran islam. Aku lebih teringat sloka bhagawad
gita(4:11) yang aku baca, sebenarnya aku sangat yakin dengan sloka
tersebut, tapi banyak keanehan yang membuat aku bertanya-tanya dari
kebiasaan orang hindu. Cara sembahyang orang hindu memakai dupa dan
bunga, setiap sembahyang selalu bertepatan dengan hari jawa yaitu kliwon
terasa sangat mistis sekali. Ketika itu pikiranku kembali sempit,
doktrin itu muncul lagi aku merasakan keanehan. Bagiku dupa dan bunga
kan untuk memanggil mahkluk halus (pemikiran yang sempit). Melihat ada
gambar-gambar dewa dewi, aku merasakan keanehan itu. Kenapa tuhannya
banyak sekali. Mana yang harus disembah dahulu, dan bla bla
bla.....Terasa ada keanehan dari ajaran ini. Akhirnya aku kembali
meminta poeper untuk menjelaskan makna-makna pertanyaanku itu. Aku
banyak bertanya kepada poeper tentang sarana yang digunakan dalam
bersembahyang, tentang dewa dewi , tentang hakikat tuhan dalam hindu.
Poeper menjelaskan semua apa yang aku tanyakan, Aku tersenyum lebar
ketika poeper menjelaskan semua itu, aku mendapat jawaban yang bisa
dinalar oleh pikiranku. Aku yakinkan diriku dengan penuh kesadaran.
20
Februari 2011 suasana menyongsong hari raya nyepi sudah tampak
terlihat. Umat hindu di daerah poeper bekerja bakti membersihkan pura.
Ketika itu aku hanya melihatnya saja, sebenarnya ingin membantu tapi aku
minder berbaur dengan lingkungan sekitar. Aku diberitahu poeper kurang
lebih satu minggu lagi akan mengikuti upacara melasti di bendungan siman
yang jaraknya (kurang lebih 10km) dari rumahku, merupakan rangkaian
proses upacara hari raya Nyepi. Aku belum tahu melasti itu apa, tapi
pemahamanku adalah dimana semua umat hindu yang tinggal di kabupaten
Kediri berkumpul di bendungan siman untuk melangsungkan acara
persembahyangan. aku bilang ke calon mertuaku , “aku ingin ikut melasti
buk”. Dan Ibu camerku langsung mengajakku untuk membeli baju kebaya, dan
pertama kali itulah aku memiliki pakaian adat (sembahyang). Senang
sekali aku memilikinya. Kucoba kebaya itu dan berkaca berulang-ulang
selayaknya anak kecil yang baru dibelikan baju baru oleh
ibunya.hehehehehe, Aku merasa percaya diri memakai nya.
Dalam
benakku berkata “ternyata perempuan kalau memakai kebaya sangat anggun
sekali dan terlihat cantik”. Beda ketika aku masih sering beribadah
dengan keislamanku. Aku harus menutup auratku, tak boleh ada satupun
aurat yang terlihat. Saat wudhu semua harus terhindar dari sisa-sisa
bedak dan najis Sampai aku berfikir sangat konyol “masak mau menghadap
kepada Tuhan harus serba tertutup dan tak kelihatan cantiknya karena
merias wajah sedikitpun nggak boleh.heheheheehehehe ” padahal menurutku
kalau mau menghadap Tuhan kita harus menunjukkan anugrah yang diberikan
Tuhan kepada kita, seperti berias saat mau sembahyang kan pasti
kelihatan segar dan cantik. Masak kalau mau berias hanya untuk
kekasihnya aja.hehehehehe.
Itu pemikiran yang konyol menurutku, tapi masuk akal juga sih.hehehehe.
Pada
tanggal 02 Maret 2011 telah sampailah acara melasti tersebut, dan aku
mengikuti melasti di bendungan siman bersama poeper dan keluarganya, aku
senang bercampur sedikit merasakan keanehan karena baru pertama kali
itu juga aku mengikuti melasti dan sembahyang. Aku masih ragu karena
minder takut salah dalam bersembahyang. Apalagi cara duduk sembahyang
laki-laki dan perempuan itu beda. Kalau laki-laki hanya duduk bersila
(Padmasana) sedangkan perempuan duduk bersimpuh (Bajrasana). Aku masih
belum terbiasa duduk bersimpuh karena bersimpuh terlalu lama membuat
kakiku terasa sakit sekali, sehingga mengganggu konsentrasiku dalam
bersembahyang.
Tepat 4 Maret 2011 malam perayaan tawur agung pun berlangsung didaerah tempat poeper.
Aku
masih belum yakin untuk mengikuti persembahyangan di pura dekat rumah
poeper, karena aku masih minder untuk bersosialisasi dengan lingkungan
umat hindu dan ingin lebih memantapkan pilihanku ini. Aku tidak ikut
persembahyangan, sebenarnya ingin sekali mengikutinya tapi tertutup
dengan keminderan dan kebimbanganku aku memutuskan untuk tidak ikut.
Tapi
aku mulai sangat menyesal, dalam hatiku aku merasa tersiksa ketika
melihat kekompakkan umat hindu itu, mereka bersemangat sekali meskipun
dalam keadaan cuaca yang hujan tapi semangatnya sangat luar biasa, aku
iri melihatnya. Aku ingin sekali merasakannya masuk dilingkungan itu.
Rasa keinginanku tak terbendung melihat semua itu aku menangis tak
tertahan, begitu menyiksa hatiku karena belum pernah merasakan
pergolakan batin yang seperti ini. Aku hanya bisa melihat, dan merasakan
penyesalan yang sangat dalam. Aku berkata pada diriku sendiri, “aku
terlalu bodoh, kenapa aku mengikuti rasa egoku yang membuatku menyesal
tak bisa mengikuti arak-arakan itu”. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB ,
arak-arakan mulai kembali didepan pura Giri Nata, saatnya untuk
mengkremasi patung buta kala yang sebelumnya diarak keliling desa. Aku
mendekat dari karamaian itu, aku didampingi poeper yang setelah
mengikuti arak-arakan tersebut. Tepat jam 22.00 WIB acara arak-arakan
selesai, dan suasana tempat poeper berubah menjadi hening sekali. Aku
diantarkan pulang oleh poeper.
Keesokkan harinya 5 Maret 2011
tepat jam 06.00 WIB poeper mengirimkan pesan singkat padaku “ Doakan
Catur Brata ku berjalan lancar ya”. Aku menjawab “iya, semoga semuanya
berjalan lancar”, tapi pesanku tidak terkirim karena memang hp nya sudah
di off. Aku bertanya-tanya kembali, ketika Catur Brata hal apa saja
yang dilakukan, mengingat poeper juga pernah bercerita kalau saat
melaksanakan catur brata semua aktivitas harus di hindari dan berpuasa
24 jam. Aku penasaran sekali, apa yang dia kerjakan saat itu. Aku
berangan-angan seandainya aku bisa mengikutinya, apa yang aku lakukan
saat itu. Saat poeper menjalankan Catur Brata, aku berusaha mempelajari
buku-buku yang dipinjaminya. Mulai dari buku berjudul “Apakah Saya
Beragama Hindu” ,”Panca Sradha” lainnya tak bisa kusebutkan satu per
satu. Karena memang Ayah poeper seorang Guru agama Hindu, jadi tidak
heran kalau poeper memiliki banyak buku tentang agama hindu.
Pengetahuanku semakin luas tentang ajaran Hindu.
Aku berusaha
memantapkan pikiranku , mungkinkah aku beragama hindu???? Aku takut
dengan perasaanku ini, takut ada pertentangan dari orang tuaku,
sahabatku dan orang-orang disekitarku. sampai doktrin itu kembali
muncul, “ apakah aku berdosa???? aku tak pernah beribadah. Memang saat
itu sangat sulit membuang doktrin yang menylimuti pikiranku sejak kecil.
Bagaikan
menghapus coretan hitam diatas kertas putih. Aku menangis merasakan hal
ini. Aku merasa tak berguna, kepada siapa aku mengadu??? Terlepas dari
semua itu aku menjalankan kehidupanku tanpa berkeyakinan. Aku masih
merasa simalakama. Tak ada yang perlu aku pertahankan saat itu. Dalam
keislamanku aku merasa tertekan dan ragu akan ajarannya, sedangkan
dikeyakinanku terhadap hindu aku merasa takut jika orang tuaku tak akan
menerimaku lagi. Sementara itu aku berusaha tak memepedulikan kedua
ajaran itu. Aku merasa agnoistik (kadang tidak percaya adanya tuhan
kadang pula percaya tuhan itu ada).
Awal juli 2011 poeper
memberitahuku sebentar lagi hari raya galungan dan kuningan. Perasaanku
masih bimbang ikut apa tidak ya??? Tapi aku sudah ada niatan untuk
membeli kebaya lagi meskipun entah nantinya akan aku buat apa, karena
memang saat itu aku belum yakin sepenuhnya memilih hindu sebagai
jalanku. Tepat tanggal 16 juli 2011, hari raya kuningan berlangsung.
sebenarnya sebelumya sudah merayakan hari raya galungan 10 hari sebelum
kuningan. Tapi aku berhalangan hadir. Ini pertama kali aku mengikuti
persembahyangan di pura giri nata dengan memakai kebaya yang aku beli
sebelum hari raya galungan dan kuningan. Aku merasa percaya diri dengan
kebaya yang aku pakai. Tapi jujur aku masih merasa bingung juga karena
masih merasa belum terbiasa. Dan aku juga belum mendapat kepastian dari
pilihanku.
Selang lima bulan kemudian, aku serasa benar-benar merasa Tuhan menyayangiku.
Aku
serasa mendapat jawaban atas pencarianku selama ini, mungkin ini
petunjuk bagiku agar aku bisa memantapkan hati untuk memilih
keyakinanku. Tepat tanggal 08 oktober 2011 aku bermimpi, didalam mimpi
tersebut aku serasa hendak masuk ke suatu pura seperti pura besakih
karena puranya hampir menyerupai besakih. Aku berjalan menuju tempat di
depan pintu pura , tiba-tiba ada ibu-ibu yang bertanya padaku “ dek mau
sembahyang ya??? Aku menjawab “ sebenarnya saya ingin sembahyang bu tapi
lupa tidak membawa pakaian adat” , karena dalam mimpiku aku masih
mengenakan kaos warna putih dan jeans panjang.
Saya turun dari
tangga untuk kembali pulang mengambil pakaian adat. Tiba-tiba arah yang
aku tuju bukan kearah rumahku, tapi aku masuk di suatu tempat yang
sedikit agak petang. Ternyata aku masuk di suatu rumah yang tak sengaja
aku melihat ada lukisan dibingkai warna emas dengan gambar tokoh
pewayangan “SEMAR”(disebut sebagai Sang Hyang Ismaya, tokoh filosofi
Jawa) yang background gambarnya berwarna merah. Aku lihat terus gambar
semar itu, sampai aku merasa ada keanehan dengan gambar itu. Merasakan
semar itu mau berbicara padaku, serasa ada sesuatu yang ingin
disampaikan. Tapi aku terkejut dengan adanya bapak-bapak yang
menghampiriku dan bertanya secara langsung kepadaku “Nduk kamu agamanya
apa?? Saya jawab “ saya beragama hindu pak”, bapak-bapak itu kembali
bertanya padaku “ kamu baru ya jadi hindu???” saya kaget dengan perasaan
bingung, tapi saya menjawab “iya” dengan sedikit malu dan takut, bapak
itu bertanya lagi “ kenapa kamu memilih beragama hindu???? saya menjawab
dengan tegas “ karena saya mencari Tuhan yang mencintai semua mahkluk,
tidak seperti ajaran saya terdahulu yang selalu mengisi pikiran saya
dengan doktrin yang semakin hari membuatku takut”. tepat jam 08.05 WIB
aku terbangun dengan perasaan yang sangat terharu dan sedikit takut.
Memang
saat itu bangunku kesiangan, aku terlalu menikmati mimpi itu. Kenapa
aku bermimpi seperti itu, aku berfikir apakah semua ini petunjuk
untukku??? Aku menyimpulkan makna mimpiku itu, aku akan diberi petunjuk
kalau aku memang akan sembahyang dipura, dipikiranku petunjuk apakah
itu?? apakah aku harus pergi ke besakih?? Karena yang terlihat pura itu
menyerupai besakih. Dan Sesosok Tokoh pewayangan Semar, tokoh yang
sangat arif dan bijaksana. Apakah aku harus bisa memilih pilihanku
secara bijaksana seperti halnya sifat yang dimiliki oleh tokoh Semar
????.
Aku bertanya-tanya kembali, Apakah mungkin makna mimpiku
seperti itu??? serta bapak-bapak yang bertanya tentang keyakinanku itu,
apa menunjukkan kalau aku memang yakin dengan pilihanku itu. Apakah ini
jawaban dari semua perjalanku selama ini. Aku teringat kembali sloka
bagawad gita (4:11). Aku merasa ada semangat, merasakan ada keajaiban
yang membuatku sangat yakin dengan jalan yang aku pilih ini. Pertama
kali aku mendapatkan mimpi yang bagiku adalah suatu anugrah dari Sang
hyang Widhi. Aku menangis terharu, dalam hatiku “Sang Hyang Widhi
terimakasih atas jawaban yang engkau berikan kepadaku” Aku tak banyak
bertanya-tanya lagi akan makna dari mimpi itu, karena bagiku memang
semua sudah jelas itu petunjuk Sang Hyang Widhi untuk memantapkan
pilihanku.Tanpa ragu aku benar-benar memutuskan untuk meyakini kalau
agamaku sekarang hindu. Aku berfikir ini adalah awal dimana aku memulai
menuju jalan hidupku. Jadi apapun yang akan terjadi aku akan tetap
mempertahankan demi keyakinanku. Aku siap apapun konsekuensinya.
Saat
itu aku tak berani bercerita kepada kedua orang tuaku. Hanya poeperlah
yang aku ajak sharing tentang mimpi indahku itu. Perasaan bahagia
bercampur terharu, aku berfikir “Sang Hyang Widhi memang sangat
menyayangiku”. Aku mencoba membuka FBku dan update status, karena ingin
berbagi apa yang aku rasakan saat itu. Tapi tanpa diduga banyak sekali
yang koment tentang apa yg aku rasakan saat itu. Tak sedikitpun dapat
tanggapan bagus, banyak pro dan kontra. Terutama sahabat-sahabatku
semasa SMA, mereka menentangku mentah-mentah kalau aku dilarang untuk
masuk hindu. Sampai-sampai aku mendapat cacian dan sikap yang tidak
mengenakkan. Sempat juga aku diajak debat oleh salah satu temanku yang
beragama islam dia begitu fanatik terhadap agama lain.
Sebut saja
dia “Mr. A”. Dia mengejekku aku kafir, karena keluar dari agama islam.
Dia berusaha ngajak ngobrol aku, “Mr.A” sedang berusaha mempengaruhiku
untuk bisa kembali ke agama islam. Dia bilang kepadaku “Allah tidak akan
memaafkanmu karena kamu sekarang kafir jadi cepatlah kembali keislam,
aku jawab “kenapa kamu bisa berkata seperti itu padaku???? Emang kamu
tahu hakikat Tuhan dalam agamamu??? “Mr.A balik menjawab ”jelas tahu”.
Kamu sudah menjadi kafir, jadi Allah akan menghukummu dineraka kelak,
aku menjawab “Bagiku yang hanya bisa menghukum aku adalah perbuatanku
sendiri yang aku lakukan dikehidupan terdahulu, sekarang dan dikehidupan
mendatang. “Mr.A” malah gak bisa jawab, malah kembali menjugde “hindu
menyembah berhala dan selalu menggunakan dupa dan bunga untuk
sembahyang, benar-benar memuja setan ” aku teringat pernyataan ini,
karena aku dulu juga sempat berfikir seperti itu, aku kembali menjawab
“Bagiku hindu tidak menyembah patung, karena Tuhan selalu ada dalam
setiap jiwa manusia itu sendiri. Kalau memang kamu menganggap hindu
menyembah patung apakah di islam juga sama halnya dengan anggapan kamu
menyembah berhala??? Lihat saja ka’bah yang berdiri kokoh di mekkah itu
juga terbuat dari batu.
Umat muslim begitu memujanya, menciumi
batu hajar aswat, apakah itu bukan dianggap berhala. si Mr.A hanya diam,
aku menjawab kembali Sedangkan dupa dan bunga digunakan untuk
sembahyang itu adalah sebagai simbol upasaksi, atau sang penyaksi dari
sembahyang yang umat hindu lakukan meyakini simbol dari sinar sucinya
Tuhan, eh jangan salah nanti para penghuni surgamu juga akan mempunyai
pedupaan yang dibuat dari kayu gahara (keterangan dari Abu Hurairah
r.a). Aku menjawab lagi ketika dia tak bisa jawab” aku asalnya islam
friend , jadi aku sudah bisa bandingkan mana yang baik untuk diriku mana
yang buruk pula untuk diriku, jadi tak perlu kamu menjudge aku seperti
itu. belum tentu apa yang kamu lakukan baik di mata Tuhan. Akhirnya si
Mr.A tak bisa menjawab lagi. Dan pergi dengan nada kasar. Batinku “
sukurin lu, niat ngajak debat malah gak bisa jawab”. Hehhehehe....
Keesokkan
harinya tepat minggu kliwon, aku ingin sekali mengikuti persembahyangan
kliwon. Akhrinya poeper mengajakku ke pura giri nata untuk kedua
kalinya. Tapi dalam kesempatan ini aku masuk pura merasakan ada sesuatu
yang sangat berbeda. Aku merasakan kedamaian dan ketenangan dalam
hatiku. Serasa masuk dirumahku sendiri, serasa iklas dengan penuh
kesadaran. Berbeda ketika aku mengikuti hari raya kuningan 16 juli 2011
yang lalu, ketika belum memahami arti menjadi hindu. Bagiku ini
benar-benar anugerah dari Sang Hyang Widhi.
Sejak saat itu aku
mulai membentuk keyakinanku dengan penuh bhakti kepada Sang Hyang Widhi.
Aku semakin membentuk pribadiku semakin religius. Aku merasa semakin
hari semakin dekat dengan Tuhan. serasa sudah menemukan jati diriku.
Setiap masuk hari kliwon dan purnama aku selalu ikut persembahyangan,
rasanya sangat bersemangat sekali untuk mengikutinya. Rasa minder ku
sedikit demi sedikit mulai menghilang. Aku memberanikan diri untuk
sembahyang sendiri dipura tanpa ada poeper ataupun orang tua poeper. Aku
sudah berprinsip “masak mau sembahyang harus ada yang menemani”.
Meskipun tidak ada yang menemani, Sang Hyang Widhi selalu menemani
dimanapun aku berada.
Berjalannya waktu, aku menyampaikan
keinginanku pada poeper kalau aku ingin segera di “Sudhi Wadani”. Poeper
pun menyampaikan ke orang tuanya, tapi katanya menunggu kalau pas
“Pawiwahan” saja. Sebenarnya keinginanku sudah menggebu-gebu. Karena aku
sudah memiliki jiwa militan terhadap hindu. Berhubung sudhi wadani
butuh biaya banyak, aku berusaha bersabar. Merasakan kedamaian itu sudah
merasa cukup.
Sejak itu orang tuaku tidak tahu jalan pilihanku
ini, aku merahasiakannya didepan orang tuaku. Karena dengan aku diam
orang tuaku tidak akan marah padaku. Aku berusaha selalu bersikap biasa
di depan orang tuaku, dan orang tuaku juga tak merasa ada perbedaan
padaku. Aku juga berusaha menjaga ini semua. Karena bagiku ini bukan
waktu yang tepat untuk aku sampaikan ke orang tuaku.
Tepat
memasuki pertengahan oktober gempa menimpa pulau Bali. Bertepatan kedua
orang tuaku mendapatkan pekerjaan di Bali. Aku sangat mengkhawatirkan
keadaan kedua orang tuaku. Aku sangat bersyukur orang tuaku masih
dilindungi oleh Tuhan. Tapi entah dapat cobaan apalagi menimpa
keluargaku tanggal 19 oktober 2011 tepatnya pukul 18.30 WITA, aku
mendapat berita yang membuat aku terpukul sekali. Aku diberitahu Ibuku
kalau ayahku mengalami kecelakaan di Denpasar, tapi tempat kejadian
kecelakaan ayahku jauh dengan tempat kerjanya. Ayahku ditabrak oleh
penduduk asli bali.
Aku tak bisa menahan kegelisahan memikirkan
ayahku. Ayahku dirawat di RS Sanglah Denpasar. Ketika dirawat di RS
tersebut dalam waktu tiga hari ayahku sudah dipulangkan oleh dokter. Aku
heran kenapa dalam waktu secepat itu ayahku sudah dipulangkan. Dilihat
dari hasil rontgen dan cityscan tak ada tanda-tanda apapun. Tapi keadaan
ayahku melemah. Entah apa yang dikeluhkan ayahku. Serasa ada kekuatan
magis yang mempengaruhi keadaan ayahku. Konsentrasiku terhadap kuliah
mulai terbengkalai lagi. Serasa aku ingin menyusul ayahku di Bali, tapi
serasa tidak mungkin karena bertepatan dengan waktu PPL (Praktek
Pengalaman Lapangan) ku. Memasuki awal november keadaan ayahku bukannya
tambah membaik, tapi semakin memburuk saja.
Akhirnya ayahku
meminta paksa pulang ke Jawa. Didalam perjalanan keadaan ayahku semakin
drop. Ibuku merasa tak kuat melihat keadaan ayahku, sampai akhirnya
dimasukkan di RS swasta. Untungnya RS tersebut tidaak terlalu jauh dari
rumahku. Jadi aku bisa jenguk ayahku secepatnya. Sudah satu minggu
ayahku di rawat di RS tersebut tapi keadaan ayahku semakin parah saja.
Aku pasrahkan kepada Sang Hyang Widhi, jika memang saat ini ayahku akan
di ambil , ambilah. Jangan siksa ayah ku seperti ini. Ayahku merasakan
kesakitan hebat di bagian kepala dan pinggangnya. Sampai akhirnya ayahku
di rujuk Di RS. Kristen Surabaya, kebetulan kakak tiriku bekerja di RS
tersebut. Setelah di cek ternyata ayahku mengalami keretakan pada
tengkorak kepala dan pendarahan ginjal yang sampai membuat ginjal
kirinya rusak. Aku tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya. Tapi aku
berusaha berdoa sebisaku.
Aku duduk di samping ayahku ,aku
tenangkan ayahku dengan aku usap pelan-pelan pinggang ayahku dengan doa
“mantram gayatri” aku ucap pelan-pelan dengan penuh keyakinan sampai
ayahku berhenti merasakan kesakitan itu. dengan pelan-pelan pula ayahku
tertidur. Aku menangis terharu didekat ayahku Aku bersyukur “Astungkara”
terimakasih Sang Hyang Widhi atas kuasamu, ini keajaiban yang sangat
berharga untukku dan nyawa ayahku. Memasuki waktu hampir satu minggu aku
tidak mengunjungi ayahku karena memang aku harus membagi waktuku dengan
kuliah dan PKL ku. Keadaan ayahku semakin membaik dibanding dengan
keadaan sebelumnya, tapi masih belum diperbolehkan untuk pulang.
Semenjak aku berada dirumah aku bersembahyang sebisaku.
Setiap
malam tepat jam 00.00 WIB aku mulai menyalakan dupa bergegas sembahyang.
Aku memohon maaf atas setiap apa yang aku lakukan, mendoakan agar
ayahku agar diberi kesembuhan. Aku duduk didepan dupa yang aku nyalakan,
aku mulai merenungi kejadian demi kejadian yang menimpa keluargaku. Aku
berfikir semua ini memang karma masa lalu yang menimpa keluargaku. Tapi
aku mulai befikir, memang benar keajaiban terletak pada keyakinanku
“mantram gayatri” adalah penuntun segalanya. Aku menangis tak tertahan.
Aku terharu “betapa indahnya karuniamu Sang Hyang widhi atas keyakinan
yang aku peroleh saat ini” ucapan syukur aku ucapkan berkali-kali dengan
sedikit terisak-isak. Hampir dua jam aku duduk di depan dupa , waktu
beranjak pukul 02.00 WIB , aku beranjak tidur karena harus bangun pagi.
Genap
tiga minggu ayahku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, karena
keadaan ayahku sudah cukup baik. Satu yang aku ingat saat itu yang
keadaan ayahku masih tak memungkinkan untuk bisa bertahan hidup tapi ini
benar-benar suatu keajaiban. Aku hampir tak percaya , dalam hatiku
adalah ini anugrah Sang hyang Widhi yang sudah mengabulkan doaku melalui
“gayatri mantram”.
Sejak saat itu pula ayahku berhenti kerja
sampai sekarang. Tapi aku sangat bersyukur masih bisa melihat ayahku dan
ibuku. Aku melihat ada kedamaian dalam keluargaku yang sebelumnya belum
pernah aku dapatkan langsung dilingkungan keluargaku. Aku mulai senang
bisa berkumpul lagi bersama orang tuaku. Orang tuaku memutuskan dirumah
saja menemani aku dan saudaraku.
Aku tetap menjalankan prinsipku
dengan kehinduanku. Aku tetap menjalankan sembahyang seiklas aku
menjalaninya, tanpa merasa ada paksaan dalam hatiku. Awalnya aku
sembahyang di rumahku sendiri tidak berani memakai dupa, karena aku
masih menghargai keluargaku dan orang disekitar rumahku. Takutnya punya
pikiran macam-macam. Tapi sebulan kemudian aku memberanikan diri untuk
sembahyang memakai dupa, setelah sembahyang dupa aku matikan. Dan tak
ada yang komplain ketika itu. keluargaku tak ada rasa curiga apapun
padaku terutama orang tuaku. Mungkin orang tuaku sudah tahu apa yang aku
lakukan mereka diam saja, dan berusaha menerima apa yang aku lakukan.
Orang tuaku juga tidak pernah mengingatkan aku sholat seperti halnya
yang pernah dilakukannya padaku. Aku sedikit lega ketika orang tuaku
bersikap seperti itu. Mungkin dalam benak orang tuaku ,”sudah tak patut
jika aku memaksakan kehendak anakku”. Tapi orang tuaku tak pernah
mengajakku berbicara masalah keyakinaku. Serasa semua ini tak di
permasalahkan. Aku merasa semuanya memang rencana Tuhan, tak lupa aku
ucap syukur kepada Sang Hyang Widhi.
Menjelang hari natal tiba,
bertepatan kuliahku libur tanggal 22 Desember 2011 aku minta izin orang
tuaku untuk berlibur ke klaten jateng, tempat poeper kuliah. Rencana nya
poeper mengajakku tirta yatra ke Candi Cetho yang terletak di dusun
Ceto Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar jawa tengah. Aku
begitu sangat antusias sekali karena baru pertama kali juga aku
berwisata religi. Keesokkan harinya tepat Jam 07.00 WIB Aku bergegas
siap-siap menuju lokasi tirta yatra. Cuaca saat itu begitu sangat cerah
menggambarkan situasi hatiku. Kurang lebih 2,5 jam perjalanan akhirnya
aku dan poeper sampai candi cetho. Di daerah candi cetho aku merasakan
suasana pedesaan yang sangat alami, benar-benar melihat kuasa Sang Hyang
Widhi.
Aku terheran-heran bagaimana para leluhurku ini bisa
membuat candi cetho ini, hampir pada ketinggian 1400m diatas permukaan
laut. Benar-benar luar biasa. Aku terkagum-kagum dengan suasana itu.
Sebenarnya aku ingin sembahyang di candi cetho tersebut, tapi berhubung
aku sedang cuntaka aku berusaha minta izin pada para leluhur kalau
tujuanku baik, hanya ingin melihat keindahan yang sudah di buat oleh
para leluhur. Aku berfoto-foto mengahabiskan waktuku disana. Aku
merasakan kedamaian berada disana. Rasanya aku tak ingin pulang. Aku
merasa sudah betah tinggal disana. Tak ada halangan apapun ketika aku
berada disana, karena aku berfikir” aku sudah izin kepada leluhurku, dan
berdoa kepada sang hyang widhi.
semua ini aku lakukan karena
semata-mata aku ingin berbhakti kepada leluhurku”. Tak terasa waktu
menunjukkan pukul 11.00 WIB, aku dan poeper memutuskan untuk lanjut ke
perjalananku selanjutnya, ke situs Menggung. Situs ini adalah tempat
moksa-nya Raja Majapahit terakhir – Prabu Brawijaya V. Didalam
perjalananku menuju situs menggung ada keajaiban. Mendung sangat tebal
menyelimuti perjalananku dan poeper. Aku serasa tampak panik, dalam
hatiku “sebentar lagi hujan akan turun”, poeper berkata padaku “ kita
lanjut perjalanan atau pulang saja”, aku bingung. Tapi aku merasa tetap
ingin ke sana (situs menggung). Gerimis sudah mulai turun, perjalanan
tetap aku lanjutkan dengan poeper sembari berfikir. Akhirnya aku bilang
ke poeper,”kita lanjut perjalanan saja”. Didalam perjalanan aku berdoa,
aku memohon izin kepada Sang Hyang Widhi agar merestui tujuan
spiritualku ini”.
Aku mengucap gayatri mantram tanpa henti,
sampai ditengah-tengah perjalanan aku merasakan ada keajaiban datang
menghampiriku. Beberapa menit yang lalu mendung begitu serasa mau jatuh,
hanya tinggal meneteskan titik air hujan yang sangat deras. Tapi apa
yang aku dapat, tenyata cuaca pun berubah berganti cerah seakan tak ada
mendung sedikitpun. Aku sangat bersyukur sekali kepada Sang Hyang Widhi
atas izinnya. Dengan penuh semangat akhirnya akupun tiba ditempat
tujuan. Rasa mistisnya pun terasa, aku tak berani masuk di situs
menggung karena aku sedang cuntaka. Akhirnya poeper memutuskan untuk
masuk sendiri dan sembahyang disana. Selang beberapa menit poeper keluar
dan mengajakku untuk masuk meskipun aku sedang cuntaka.
Aku
tetap tak mau karena aku takut terjadi hal yang tidak-tidak. Dengan
perasaan tak menentu akhirnya aku menuruti apa yang di minta poeper,
tapi sebelum masuk poeper mengingatkan aku kalau harus izin dahulu.
Tepat diatas tangga situs menggung dalam hati aku berkata, “ om
swastyastu, aku pasrahkan semua ini kepada mu Sang Hyang Widhi. Aku tak
ada niatan apa-apa selain mengingat akan kuasamu. Semoga tidak terjadi
apa-apa. Dan mohon maaf untuk leluhurku, mohon izinkan aku dengan
keadaan tidak sucianku ini masuk untuk melihat peninggalanmu.
Astungkara. Dengan keadaan pasrah dan yakin aku mulai memasukinya. Aku
benar-benar merasakan rasa mistis yang begitu sangat kental. Dalam waktu
5 menit aku memutuskan untuk keluar dari area, aku merasa tidak kuat.
Aku merasa ini sudah cukup, terpenting aku sudah bisa melihat
peninggalan leluhurku. Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB aku dan poeper
memutuskan untuk pulang ke Kediri Jawa timur. Dengan perasaan senang dan
ucapan syukur “Awignam astu” akhirnya rasa capek ku terbayar sudah
dengan kegembiraanku bisa mengunjungi peninggalan leluhur di Jawa
tengah.
Aku sangat bersyukur dengan kedamaian yang aku peroleh
saat itu. Aku benar-benar berterimakasih kepada Sang Hyang Widhi atas
karma yang aku terima dikehidupanku ini. Aku bersyukur bisa kembali ke
jalan dharma. Aku sempat berbicara dengan poeper “Apapun yang terjadi
aku akan tetap mempertahankan kehinduanku. Karena Sang Hyang Widhi sudah
memberikan jawaban untukku yang belum tentu orang lain dapatkan”. Aku
berdesir ketika mengatakan itu. aku merasa ada semangat baru dalam
diriku.
Memasuki awal tahun 2012 aku merasakan menjadi manusia
baru. Merasakan penuh semangat untuk menjalani hindupku menuju jalan
dharma. Aku berdoa kepada Sang Hyang Widhi agar selalu memberikan
waranugraha kepadaku.
Aku sudah mulai masuk semester VIII
(semester akhir) dimana aku harus memperjuangkan masa depanku. Aku
merasa disibukkan dengan tugas akhirku. Semua ini juga kadang membuat
aku sempat putus asa, tapi aku berusaha bangkit dari semua ini. Aku
merasa harus lebih bersyukur dengan semua ini. Bagiku Sang Hyang Widhi
akan selalu bersamaku. Keluargaku, keluarga poeper dan poeper selalu
memberiku semangat untuk bisa menyelesaikan ini semua. Aku sangat
bersyukur dengan kehidupan yang sekarang ini. Aku merasa menemukan rumah
baruku, memang inilah jalanku.
Memasuki bulan ke 3 , maret 2012
bulan yang begitu aku nantikan. Aku benar-benar menunggu moment seperti
tahun kemarin. Karena mengingat bulan maret adalah bulan menyambut hari
raya nyepi tahun baru caka 1934. Bertepatan dengan banyaknya kegiatan
kampusku. Jadwal sudah terlihat jelas semuanya berbenturan dengan acara
melasti dan perayaan nyepi. Aku berharap ada keajaiban dibulan maret ini
untukku, mengingat aku belum pernah merayakan nyepi secara langsung di
pura bersama poeper dan keluarganya. Aku berdoa semoga Sang Hyang Widhi
benar-benar mengabulkan keinginanku.
Bulan maret bagiku sangat
istimewa, tanpa aku sadari awal maret adalah awal aku dapat keajaiban
itu. tepat tanggal 03 Maret 2012 ibuku berbicara padaku masalah
keyakinanku. Ibuku berkata padaku “ Ibu sudah tahu keyakinan yang kamu
pilih, ayah dan ibu tidak mempermasalahkan semua itu, terpenting kamu
bisa bertanggung jawab dengan pilihanmu itu”. Hatiku benar-benar bedesir
mendapatkan lampu hijau dari orang tuaku. aku sangat senang sekali.
Kembali
ke kegiatan kampusku, aku berharap dibulan maret adalah hari yang
membahagiakan untukku. Mungkin ini sudah menjadi bagian dari rencana ku
awal, dan Sang Hyang Widhi mengabulkan doaku sedikit demi sedikit.
Jadwal kampus yang awalnya berbenturan dengan perayaan nyepi. Awalnya
tanggal 18 , 24 dan 25 maret 2012 adalah jadwal yang ditentukan kampus
yang wajib diikuti mahasiswa semester VIII, karena memang tanggal 18
maret adalah acara untuk melasti di bendungan siman, sedangkan tanggal
24 dan 25 maret masih menikmati ramainya hari raya nyepi. Tapi aku
berdoa semoga Sang Hyang Widhi mengabulkan doaku, akhirnya tanggal yang
disesuaikan kampus benar-benar tidak terjadi dan diundur tanggal
berikutnya. Aku sangat bersyukur sekali bisa mengikuti prosesi rangkaian
nyepi tanpa ada halangan. Tepat tanggal 18 maret 2012 acara melasti di
bendungan siman berlangsung. Aku sangat menanti itu semua. Aku
bersemangat sekali, bergegas siap-siap mempercantik diri , mengenakan
kebaya yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Aku merasa menjadi manusia
yang paling bahagia. Aku merasa bersyukur bisa mengikuti acara melasti
tanpa ada halangan sedikit pun. Tak lupa aku ucapakan rasa syukurku pada
Sang Hyang Widhi. “Awignamastu”.
Tak terasa waktu berjalan
begitu cepat. Tepat tanggal 22 maret 2012 Tawur kasanga berlangsung. Aku
menantinya dengan penuh suka cita. Tepat pukul 17.30 WIB aku siap-siap
berangkat ke pura bersama poeper dan keluarganya. Aku tak pernah
merasakan rasa berdebar-debar bahagaia seperti ini. jantungku berdebar
semakin kencang, sampai aku tiba di depan pura. Aku memohon waranugraha
dari sang hyang widhi sembelum memulai persembahyangan , agar tawur
kasanga yang aku ikuti pertama kali ini berjalan lancar. Persembahyangan
dimulai, kedamaian dan kebahagiaan menyelimuti perasaanku.
Aku
merasa menangis bahagia. Selesai acara persembahyangan siap-siap mulai
berkeliling desa memulai arak-arakan ogoh-ogoh. Rasa capekku tak terasa
dan terbayarkan oleh kegembiraanku dan Aku sangat bahagia bisa diberi
kesempatan dapat mengikuti prosesi tawur kasanga. Tepat jam 23.00 WIB
daerah pura giri nata sudah mulai hening. Aku bergegas pulang kerumah
poeper untuk istirahat sebentar, Aku tak sempat memikirkan sehabis
prosesi tawur kasanga ini apa yang harus aku lakukan.Tapi aku memutuskan
untuk tidur di tempat poeper dan ingin mengikuti pawasa selama 24 jam.
Dalam hatiku berkata “bisa nggak ya aku melakukan catur brata dan
upawasa selama 24 jam”???? aku masih ragu karena belum pernah menjalani
catur brata penyepian tanpa boleh keluar rumah dan melalukan apa-apa.
Tapi aku yakinkan diriku kalau aku pasti bisa melakukan catur brata
penyepian. Tepat pukul 00.00 WIB aku sembahyang agar keyakinanku untuk
melakukan catur brata berjalan lancar.
23 Maret 2012 , aku
memulai catur brata penyepian dimulai dari pukul 06.00 –06.00 WIB
keesokkan harinya. Waktu terus berjalan aku merasa terbiasa
melakukannya, sampai waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB. Aku heran sekali
kenapa aku tidak merasakan lapar ataupun lemas padahal aku sama sekali
tidak melakukan aktifitas apa-apa, sedangkan puasa kalau di jalani
dengan berdiam diri itu lapar dan lemasnya pasti terasa. Padahal
sebelumnya aku menjalani puasa secara islam dahulu jam 15.00 WIB perut
selalu merasakan lapar. Aku berfikir semuanya terletak pada keyakinanku.
Aku merasa sangat bersyukur atas kekuatan yang sudah diberikan Sang
Hyang Widhi kepadaku.
Keesokkan harinya ngembak geni berlangsung,
aku merasakan kebahagiaan yang tak ternilai bisa dharma shanti dengan
umat hindu di dalam pura giri nata. Kedamaian yang sangat berharga untuk
aku peroleh.
Dari apa yang aku sampaikan ini semua tersusun rapi
sesuai harapanku.Sang Hyang Widhi memberikan waranugraha yang bagiku
sangat berharga. Setiap kejadian demi kejadian yang aku rasakan semua
tak lepas dari keyakinanku untuk memeluk hindu. aku setiap saat bisa
merasakan kedamaian. Bisa menjadi manusia baru yang menemukan jati diri
sesungguhnya. Aku bersyukur bisa diberikan karma yang indah di kehidupan
sekarang. Semua ini tak lepas dari orang-orang disekalilingku yang
mendukung aku bisa sampai seperti ini. Semua harapanku sudah tercapai
dan masih 1 hal yang aku inginkan saat ini yakni ingin segera di “SUDHI
WADANI” . Tapi aku berusaha bersabar menanti waktu yang tepat. Tanpa
rasa bosan kuucapakan rasa syukurku kepada Sang Hyang Widhi.
Tulisan
ini aku persembahkan untuk Papa Mama dan poeper yang selalu menerangi
hari-hariku. Terimakasih untuk Papa dan mama yang sangat aku sayangi.
Terimakasih untuk poeper yang tak pernah bosan mendampingiku. Serta tak
lupa untuk Bapak dan Ibu camerku yang selalu membimbingku selama ini.
Om shanti s
-------------------------
OM Shanti, Shanti, Shanti OM