Jumat, 21 Desember 2012

Syarat Yadnya Berpahala Mulia




Asraddha hutam dattam
tapastaptam krtam ca yat
asadityucyate pursa na
ca tat pretyaneha ca.
(Sarasamuscaya 211).

Maksudnya: Syarat yadnya yang memberikan pahala mulia dengan adanya bhakti, pemberian yang tulus ikhlas, tapa melaksanakan dharma, tetapi tanpa didasarkan dengan keyakinan yang sungguh-sungguh, maka perbuatan itu sangat hina. Tidak akan berpahala mulia di dunia ini maupun di akhirat.

Melakukan suatu kegiatan agama Hindu seperti melakukan yadnya tidak bisa terpisah-pisah. Beryadnya seharusnya dilakukan secara terpadu antara pikiran, perkataan dan perilaku. Ketiga hal itu wajib dilakukan tanpa mengistimewakan salah satunya. Kadang ada yang menyatakan bahwa yang penting pelaksanaan, bukan omongan saja. Ada juga yang menyatakan yang utama pikiran kita sudah baik. Ada juga yang menyatakan ucapan yang utama. Sesungguhnya ketiga hal itu memiliki kedudukan yang setara dan wajib terpadu. Untuk mendapatkan pahala mulia dari yadnya yang dilakukan ada beberapa syarat yang wajib diposisikan secara terpadu yaitu:

Bhakti adalah sikap hidup yang diwujudkan dengan berserah diri pada Tuhan. Berserah diri pada Tuhan itu bukanlah bermalas-malasan-- segala persoalan hidup ini diserahkan pada Tuhan. Berserah diri pada Tuhan itu adalah bekerja dengan baik, benar, tepat dan wajar. Karena ajaran Karmaphala yang diciptakan oleh Tuhan mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan memberikan pahala sesuai dengan apa yang diperbuat. Kalau perbuatan yang dilakukan itu baik, benar, tepat dan wajar, itu pasti berpahala sesuai dengan perbuatan tersebut. Ajaran Karmaphala inilah yang wajib dipegang kuat-kuat. Mantapkan keyakinan dan tingkatkan kemampuan untuk melakukan perilaku yang baik, benar, tepat dan wajar. Kapan perilaku itu memberikan pahala itu hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas perilaku itu pasti akan berpahala seperti yang dilakukan. Hal itu tidak boleh diragukan. Ini artinya berbhakti pada Tuhan untuk meningkatkan dan menguatkan eksistensi Atman yang suci. Eksistensi Atman yang kuat akan meningkatkan keluhuran moral dan menguatkan daya tahan mental. Moral yang luhur dan mental yang kuat sebagai modal dasar untuk berperilaku baik, benar, tepat dan wajar berlandaskan dharma.

Weweh artinya memberikan. Dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan Daana ngarania paweweh. Artinya daana namanya perilaku memberikan. Dengan demikian Weweh itu adalah melakukan daana punia dengan baik, benar, tepat dan wajar sesuai dengan petunjuk dharma. Bhagawad Gita XVII.20 menyatakan bahwa daana punia yang diberikan atas dasar kewajiban atau Datavyam dengan tulus ikhlas berdasarkan Desa, Kala dan Patra. Dalam hal ini Patra itu adalah orang yang baik dan tepat. Sarasamuscaya 271 menyatakan: Patra ngarania Sang yogia Wehana Daana. Artinya Patra namanya adalah orang yang sepatutnya diberikan daana punia. Daana Punia yang demikian disebut Satvika Daana atau pemberian yang berkualitas tinggi. Dalam Bhagawad Gita IV.33 dinyatakan bahwa melakukan Yadnya dengan ilmu pengethauan suci atau Jnyana Yadnya jauh lebih tinggi nilainya daripada beryadnya dengan harta benda.

Tapa dalam Sarasamuscaya 260 dinyatakan: ‘’Tapa kaya sang sosana.’’ Maksudnya, tapa adalah kuat menahan gejolak hawa nafsu. Sedangkan Wrehaspati Tattwa 25 menyatakan: ‘’Tapa ngarania umati indryania.’’ Maksudnya, tapa namanya mengedalikan indriyanya. Indriya ini dalam Katha Upanisad I.3-9 diri manusia itu diumpamakan bagaikan kereta dengan kudanya. Kuda yang menarik kereta diumpamakan indriya. Sedangana badan kereta diumpamakan badan raga. Pikiran diumpamakan tali lis atau tali kendali kereta. Kusir kereta diumpamakan kesadaran budhi. Atman diumpamakan pemilik kereta. Kuda akan dapat menarik kereta dengan sempurna untuk mengantarkan pemilik kereta pada tujuannya. Artinya badan wadag ini adalah badan kereta yang ditarik oleh kuda indriya. Ini berarti Tapa itu adalah memelihara dan melatih indriya agar tetap sehat berfungsi sempurna menurut alamnya serta patuh pada pengendalian pikiran dan kesadaran budhi. Dengan Tapa itu manusia dapat mengendalikan indriya-nya yang sehat dan tidak menyimpang dari kendali pikiran dan kesadaran budhi. Dengan demikian Atman akan semakin dekat dengan Brahman. Dekatnya hubungan Atman dengan Brahman akan membuat manusia itu selalu dapat berbuat dalan jalan Dharma. Tanpa Tapa, indriya itu bisa membawa diri manusia ini terseok-seok ke jurang Adharma menuju neraka.

Ulah Dharma, artinya prilaku yang berdasarkan dharma. Melaksanakan ini bukan sekadar untuk meraih pencitraan diri di tengah-tengah masyarakat. Namun atas kesadaran bahwa hal itu wajib dilakukan oleh manusia yang hidup di bumi ini. Perilaku Dharma menurut Wrehaspati Tattwa 25 ada tujuh yaitu: Sila, Yadnya, Tapa, Daana, Prawrajya, Bhiksu dan melakukan Yoga. Misalnya, Sila disebutkan: ‘’Mangraksa acara rahayu.’’ Artinya memiliki kebiasaan hidup yang baik. Prawrajya artinya mengembara menyebarkan Dharma. Bhiksu selalu berupaya menyucikan diri melepaskan ego atau Ahamkara. Yoga artinya mengendalikan pikiran untuk bersatu dengan Tuhan.

Sraddha, artinya keyakinan atau kepercayaan yang sungguh-sungguh. Tidak boleh meragukan kebenaran ajaran tersebut. Hidup penuh keraguan sangat berbahaya Dalam Bhagawad Gita IV.40 menyatakan: ‘’Samsayaatma vinasyati’’. Artinya barang siapa yang ragu akan kebenaran tersebut akan hancur. Inilah kunci pengamalan Bhakti, Weweh, Tapa dan Ulah Dharma. Tanpa keikhlasan dan keyakinan yang sungguh-sungguh perilaku tersebut disebut perilaku Nista namanya. Melakukan Bhakti pada Tuhan hanya untuk mencitrakan diri agar dipandang sebagai orang yang religius tanpa keyakinan sungguh sangat rendah. Demikian pula melakukan Daana Punia untuk mencitrakan diri agar dipandang orang dermawan juga rendah.https://www.facebook.com/ketut.swandana.1

Kamis, 20 Desember 2012

Mendebat Bali


PERGULATAN telah melahirkan gugatan. Gugatan tentu saja lahir dari rasa tidak puas. Ketidakpuasan pun membangun wacana berkepanjangan dalam pro-kontra pendapat. Sikap demikian akhirnya melahirkan perdebatan sebagai akibat pikiran kritis masyarakat. Kurang lebih bertitik tolak dari kerangka berpikir itulah, Putu Setia menulis buku ini. Buku ini menyusul setelah Putu Setia menerbitkan buku setema tahun 1986 dalam judul "Menggugat Bali".

"Menggugat Bali" maupun "Mendebat Bali" merupakan catatan perjalanan sekaligus pergulatan Putu Setia secara suntuk larut dalam kontemplasi memberdayakan budaya Bali. Sebagai seorang musafir budaya, Putu telah menjewer orang Bali dan budaya Bali. Itu tersirat sekaligus tersurat dari kedua bukunya dengan judul rada protes.

Jika buku "Menggugat Bali" ia tulis dengan mengambil jarak melalui perenungan dari luar daerah -- ditulis di Jakarta, maka buku "Mendebat Bali" dia tulis dengan larut berintegrasi dalam komunitas masyarakat Bali. Namun esensinya tetap sama: kegelisahan sekaligus protes yang dibungkus secara jenaka. Lelucon-lelucon dalam buku "Mendebat Bali" ini tak ubahnya sebuah hiburan pelepas lelah di tengah-tengah kesibukan tanpa batas masyarakat Bali dalam glomour pariwisata. Disajikan dengan gaya pragina bondres.

Karena disajikan secara jenaka dengan jeweran-jeweran penuh kelakar, buku ini terkesan tidak serius bagi pembaca yang tidak paham esensi sebuah bondres sebagai bentuk kesenian. Sebagai bentuk kesenian, sesuatu yang serius dibuat mencair oleh Putu Setia dalam gaya humor. Karena itulah, membaca buku ini seakan mengajak pembaca menertawakan diri-sendiri. Merenung melakukan introspeksi. Mulat sarira terhadap pernik-pernik budaya dalam tantangan fenomena global yang dirumuskan dalam dua tema pokok yakni (1) agama dan adat, serta (2) kesenian dan imbas pariwisata. Tema pertama mencakup 45 tulisan dan tema kedua memuat 39 tulisan. Semua tulisan ini, sebelumnya pernah dimuat dalam rubrik "Bondres" Bali Post, saban Sabtu sejak 2000 hingga 2002.

Tema pertama diawali dengan judul "Om Swastiyastu" diakhiri dengan "Kulkul". Pemilihan salam panganjali umat Hindu sebagai pemahbah atur sangat pas dan disikapi dengan kritis berdasarkan realitas empiris lapangan yang menimbulkan kegelisahan di mata Putu. Misalnya, seorang tampil sebagai pembicara, entah berpidato, memberi ceramah, membacakan, memulai memimpin rapat, ia berkata, "Sebelumnya, kepada umat sedharma, saya menyampaikan panganjali umat Om Swastiyastu"

Oleh Putu Setia, kesalahkaprahan itu terletak pada pembiasaan (pembudayaan) terhadap sebuah kejanggalan. Putu pun lantas menganalogikan panganjali itu dengan salam profan semisal "selamat pagi", "selamat sore", atau "selamat siang". Sebagai sebuah salam, Putu mendebat sebagai layaknya pragina bondres, "Tidak ada orang memberi kata pengantar untuk sebuah salam, karena salam itu sendiri adalah kata pengantar".

Begitu pula dalam tajuk "Kulkul", Putu menyerempet pengrajin di desa lain (luar Pujungan) yang doyan memprofankan benda sakral yang bernama kulkul. Sebagai benda sakral, kulkul adalah tenget. Tidak sembarang orang boleh memukulnya, apalagi melecehkannya dalam bentuk alat vital. "Yang menarik, di desa saya tidak ada yang membuat kulkul porno. Ini desa tenget (sakral), jangan menjual barang begituan", tulis Putu.

Selanjutnya pada tema kedua, Putu mengawali dengan judul "Persembahan". Judul inilah yang selanjutnya mengalir dalam kegelisahan tanpa tepi terhadap perilaku berkesenian masyarakat Bali belakangan ini, sampai dengan ledakan bom Kuta, 12 Oktober 2002. Di sini kata "persembahan" mengalami erosi secara semantik karena itu perlu didebat setelah digugat. "Kalau begitu, persembahan itu motivasinya berbeda-beda. Ada yang dengan ketulus-ikhlasan tinggi, tanpa mengharapkan hasil materi. Ada yang sudah merancang-rancang nilai jual, dan motivasinya memang materi. Lalu ada yang berkarya hanya untuk memenuhi pesanan dengan jadwal yang pas", tulis Putu.

Proses yang mengalir terhadap laku berkesenian masyarakat Bali, oleh penulis buku ini ditautkan dengan kemajuan perkembangan pariwisata yang membawa serta budaya dengan segala eksesnya. Termasuk menggoncang pakem kesenian Bali yang digarap asal-asalan hanya demi uang. Akibat lanjutannya, batas sakral dan profan pun tak jelas. Fenomena itu terangkum dalam judul "Barong-barongan". Jangan-jangan profanisasi terhadap kesenian sakral ini telah menjadi pemicu ledakan bom Kuta, walaupun Putu Setia sangat optimis dengan kebangkitan pariwisata Bali pascabom Kuta di akhir catatan ini.

Selanjutnya, model kesenian pun berubah demi memuaskan penonton. Karena itulah lahir "Joged Binal" dan "Joget Angguk-angguk. Dalam "Joged Binal", Putu tidak hanya berceloteh tentang gaya penari yang erotis, tetapi juga masuknya fenomena money dance -- memberi suap kepada panitia pementasan agar bisa ngibing. Fenomena ini adalah wujud KKN yang merasuk ke dunia seni. Dalam judul "Joget Angguk-angguk", digambarkan penari wanita Bali yang berani vulgar tidak kalah dengan Inul. Gerakan erotis yang ditabukan pada masa lalu, kini menjadi suatu yang biasa dan lumrah dilakukan penari wanita.

Prasasti Sejarah

Begitulah Putu Setiap berhasil mereka pernak-pernik budaya Bali yang terus bermetamorfosis dalam dinamika zaman dengan segala keluh-kesahnya. Karena itu, buku ini bisa dijadikan prasasti sejarah perkembangan budaya pop Bali berdasarkan amatan seorang musafir budaya lokal sehingga kekentalan santan kearifan lokal mewarnai isi buku ini dapat dijadikan dokumen budaya intelektual.

Di samping itu, dalam buku ini, Putu Setia memberikan pengantar dan penutup sendiri. Tidak melibatkan budayawan lain seperti kecenderungan dalam sebuah peluncuran buku selama ini. "Keberanian" ini menjadi titik lemah sekaligus keunggulan kembang rampai ini. Dikatakan lemah, karena dengan demikian Putu terkesan menonjolkan egonya sebagai pribadi dengan memborong lakon seperti layaknya topeng pajegan. Padahal, pentas bondres senantiasa melibatkan kelompok/grup. Kecuali itu, secara teknis, kesalahan cetak juga mewarnai buku ini sebagai titik lemah yang lain.

Keunggulannya, Putu Setia tampak percaya diri dan secara otonomi tidak mengandalkan reputasi budayawan lain untuk memberikan prolog maupun epilogi dalam catatan perjalanan budaya ini. Sebagaimana layaknya pragina bondres, Putu Setia menari sendiri di atas panggung budaya di tengah-tengah penonton yang gelisah. Selanjutnya, terserah penonton (baca: pembaca). Mau menerima, menolak, mengapresiasi, maupun mendebat ulang, silakan saja.

Hindu Agama Terbesar di Dunia

Hindu Agama Terbesar di Dunia
Hindu Agama Terbesar di Dunia (Hinduism, the Greatest Religion in the World) XV + 191 hal
Oleh :
Stephen Knapp Yadnavalkya Dasa
David Frawley
Satguru Sivaya Subramuniyaswami
Klaus K. Klostermaier

Editor : Ngakan Made Madrasuta
Diterbitkan oleh : Media Hindu

Agama Hindu adalah Peradaban Satu Milyar Dollar

Ada Banyak budaya dan agama di dunia ini, semuanya bisa saja menawarkan aturan moralistik elementer namun bukan pengetahuan spiritual yang lebih tinggi. Namun Weda, mengantar lebih jauh ke dalam level pemahaman spiritual yang lebih maju. Jadi, ini seperti philosofi satu miliar dollar yang karena kedalaman kesadaran dan wawasannya, telah menggabungkan semua pertanyaan berharga sepuluh dolar ini.

Buku Yang Membuat Merinding
Saya mengucapkan terima kasih atas kiriman buku “Hindu Agama Terbesar di Dunia”, yang dikirim oleh Bapak I Putu Suarsana, bagian sirkulasi Media Hindu, Jakarta. Demikian pula kepadaBapak-Bapak lain yang turut berinisiatif mengirimkan buku yang sangat berharga itu, saya ucapkan terima kasih.
Seperti kebiasaan kutu buku langsung dilahap. Baru pada Bab “Pengantar” oleh Bapak Ngakan Made Madrasuta dihalaman xi saya sudah merinding karena disitu dijelaskan kenapa Hindu disebut sebagai agama terbesar di dunia. Kalau boleh saya resume-kan (terutama bagi rekan-rekan yang belum sempat memiliki buku ini), maka jawabannya adalah :
1. Agama Hindu melayani keperluan spiritual setiap manusia karena aspek-aspeknya sangat luas dan dalam.
2. Agama Hindu memiliki kasih yang tulus, toleransi dan apresiasi yang murni terhadap agama-agama yang lain
3. Agama Hindu tidak dogmatis dan terbuka untuk diuji kebenarannya tentang unsur-unsur srada (keyakinan)yang dimilikinya.
4. Agama Hindu percaya pada sebuah dunia yang adil karena setiap manusia dibimbing oleh hukum karma menuju kepada kesucian roh yang pada gilirannya akan bersatu dengan Tuhan (Moksa).
5. Agama Hindu memiliki gudang ilmu pengetahuan yang tidak habis digali oleh manusia guna meningkatkan kwalitas kehidupannya.
Kelima butir jawaban itulah yang patut kita sampaikan kepada diri kita sendiri, maupun kepada orang lain dalam “memperkenalkan” Hindu. Kelima butir jawaban itu pula dapat digunakan untuk memacu diri kita masing-masing dalam upaya mendalami Hindu.

Selanjutnya di halaman xiii : Agama Hindu sedang berkembang menjadi agama universal yang sesungguhnya dan menjadi rumah bagi semua religiusitas yang murni. Penyebaran agama Hindu terutama tidaklah melalui para “guru” tetapi melalui para intelektual dan penulis. Kalimat ini perlu direnungkan dalam-dalam, dan saya kemudian mempunyai beberapa kesimpulan:

1. Mereka yang masuk menjadi pemeluk Hindu, dan mereka yang bertahan dalam Hindu adalah pemikir yang rasional dan moderat; maka sebaliknya mereka yang berpindah agama atau tidak mempertahan-kan Hindu adalah orang yang tersesat menuju kemunduran spiritual.

2. Untuk menjadi “universal” haruslah ditempuh upaya-upaya meningkatkan kwalitas beragama, mendalami filsafat Hindu dan tidak terbelenggu pada ritual yang bertele-tele serta membuang jauh-jauh pola pikir dan prilaku yang “meracuni” Hindu, misalnya feodalisme dan fanatisme tradisi-tradisi beragama yang menyimpang dari Veda.

Sejak saya memimpin PHDI Buleleng banyak sekali orang-orang asing yang minta di-suddi wadhani-kan menjadi Hindu. Mulai tahun 2000 rata-rata setahun ada 50 orang, kebanyakan dari negara-negara Eropa : Belanda, Belgia, Norwegia, Denmark, dan Rusia. Belum ada dari Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Portugis, dll. Dari Asia baru ada orang Jepang, itupun karena perkawinan dengan orang Hindu (Bali). Yang terbanyak dan serius belajar Agama Hindu adalah orang Belanda, Belgia dan Denmark.
Beberapa orang yang upacara suddi wadhani-nya saya tangani langsung menyatakan bahwa mereka masuk Hindu mula-mula karena membaca artikel-artikel dan buku-buku Hindu, kemudian tertarik pada falsafah Hindu, belajar Yoga, Meditasi, akhirnya merasa damai dan tentram menjadi Hindu. Lalu pertanyaan saya selanjutnya, kenapa memilih Bali sebagai tempat tinggal dan melakukan upacara suddi wadhani ? Jawaban mereka : Bali mempunyai getaran fibrasi kesucian yang tinggi. Nah itu “laporan” saya untuk dikaji oleh rekan-rekan.

Akhirnya saya mengucapkan terima kasih dan salut atas upaya-upaya Bapak Ngakan Made Madrasuta dalam mencerdaskan kita melalui tulisan-tulisan/terjemahan buku-buku yang beliau susun. Semoga Hyang Widhi Asung Wara Kertha Nugraha.

Minggu, 16 Desember 2012

SERIBU RUPIAH BAGI PENANAMAN SEMANGAT WIRAUSAHA


Saya dihadang oleh Ngurah Wirawan, mantan Ketua Umum Peradah  saat memasuki Pelataran Parkir Pura Halim. ”Sudah beli es teler?”  Dengan apa adanya saya jawab belum, karena memang, baru saja sampai di tempat. Lalu diarahkanlah saya menuju penjual es teler di salah satu counter bazar dalam rangka acara Olahraga Gembira 4 Peradah DKI Jakarta. Dengan cekatan lalu Rama dan Dita, dua orang anak yang baru berumur 11 dan 9 tahun menyiapkan dua gelas es teler sesuai jumlah pesanan saya. Disodorkan gelas tersebut dengan menyebutkan harga 4.000 rupiah. Saya serahkan uang 50 ribuan. Mereka saling berpandangan sambil berhitung. Saya goda mereka, Ayo berapa kembalinya?. Berbarengan mereka menyebut 46 Ribu. Lalu sang kasir, merangkap tenaga marketing, merangkap orang tua mereka berdua, Ngurah Wirawan, menyerahkan kembaliannya kepada saya, sambil mengingatkan  ”Bilang apa anak-anak”?. Rama dan Dita menyampaikan ucapan terimakasihnya karena saya telah berbelanja. Hari ini mereka membawa 3 ember es teler, dan sekarang sudah hampir habis 2 ember.
Sambil menikmati es teler Rama dan Dita, saya berbincang dengan Ngurah Wirawan. Saya kenal baik dia sebagai seorang pengusaha yang telah malang melintang sejak lama di dunia bisnis infrastruktur dan telekomunikasi di Indonesia. Sambil tertawa dia sampaikan kepada saya, bahwa ini adalah upaya untuk mendidik anak-anaknya punya semangat wirausaha, memiliki insting bisnis, sekaligus yang paling penting tahu kalau bapaknya susah payah cari duit buat mereka. Saya tertawa sekaligus salut akan upaya dini yang telah dilakukannya. Melihat Rama dan Dita membuat saya teringat akan kisah dua teman saya, Adlin dan Peter. Adlin adalah  rekan kerja saya, dia berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat sekitar  2 jam dari kota Padang. Peter seorang teman lama di Universitas,  beretnis China  tinggal di Pluit Jakarta Utara.

Saya tidak akan menyoroti perbedaan mereka baik etnis ataupun agama, tetapi persamaan yang mereka miliki dalam satu hal, semangat wirausaha. Adlin di suatu kesempatan mengisahkan perjalanan hidupnya saat masih kecil. Di saat di berumur 11 tahun, dia sudah dibukakan toko kaset  di daerah Bukittinggi. Diberi tanggung jawab mengelola toko oleh orangtuanya mengharuskan dia untuk berbelanja ke Glodok, Jakarta. Berangkat sendiri dengan naik bus ke Jakarta, lalu menuju rumah saudara yang berada di Jakarta. Selanjutnya dia harus berbelanja kaset dari lagu-lagu terbaru.  Dari Glodok, dia balik kembali dengan barang belanjaannya ke Sumatera Barat. Kegiatan ini berulangkali dia lakukan di saat libur sekolah sampai SMA, saudara-saudaranya yang lainpun diberikan kesempatan yang sama oleh Ayah Adlin  untuk berwiraswasta sejak muda. Dilema muncul di saat lepas SMA dia diterima kuliah di UGM, dengan berat hati diserahkannya toko kaset  yang dia rintis kepada salah satu  saudaranya.

Di suatu kesempatan kami bersama pergi ke Bukittinggi dan ditunjukkan toko yang dulu dia sempat rintis. Saudara-saudara Adlin juga sudah menjadi pengusaha-pengusaha dengan omzet milyaran, toko toko besar mereka miliki di Jakarta dan Padang. Menurut Adlin yang juga telah menamatkan pendidikannya di UGM, berbisnis ibaratnya sudah menjadi khitah hidup masyarakat Minangkabau yang lebih dikenal sebagai orang Padang. Sambil bercanda Adlin menyajikan fakta, ”Bisnis orang Padang itu bisnis mulia, lho, menghidupi orang lain. Coba lihat, dimana tidak ada rumah makan Padang. Orang lain dihidupinya, orang Padang memetik untungnya.”
Peter lain lagi kisahnya, di kuliah dia telah terkenal sebagai tukang foto copy. Dengan tekun dia menjadi penyedia jasa foto copy catatan ataupun buku secara kolektif. Menurutnya,  hal ini telah dia tekuni sejak SMP. Di bangku kuliah dia telah membuka beberapa toko foto copy. Sekarang Peter telah merambah usaha percetakan dalam skala yang cukup besar. Kadang dia harus sabar mengangkat tumpukan-tumpukan foto copy dalam jumlah yang cukup banyak ke ruang kelas, tidak ada sedikitpun rasa gengsi ataupun malu dia perlihatkan. Yang penting ada duitnya, selogan Peter waktu itu.

Adlin dan Peter adalah dua contoh perjuangan wirausahawan yang sekarang telah sukses dengan bisnisnya masing-masing. Kalau mereka berasal dari etnis Padang dan Cina merupakan salah satu pembenaran kita atas sikap ekonomi yang mereka perlihatkan. Pasti kita akan berkata, ”Pantas mereka sukses berbisnis, wong dari nenek moyangnya juga sudah berdagang”. Kegigihan dan keuletan mereka dalam berwiraswasta ternyata  tidak turun begitu saja dari langit, mereka ternyata berproses dari kecil.  Sangat pantas jika etnis Cina menguasai dunia dan suku Padang bisa menyaingi etnis Cina dalam hal ekonomi di Indonesia. Mengikuti pengalaman hidup mereka, saya jadi berkesimpulan bahwa semangat dan mental termasuk insting wiraswasta adalah terbentuk seiring proses dan waktu. Pasang surut mereka lalui  sejak sangat muda,  tempaan-tempaan itu yang pada akhirnya membuat mereka sukses dan tahan banting sebagai wiraswasta sukses sampai sekarang.
Bercermin dari diri sendiri, disaat semuda mereka di Bali saya sama sekali belum berpikiran ekonomi. Benar-benar telah menjadi pakem bahwa di usia belajar, sampai tamat kuliah,  kita akan menjadi kelompok konsumtif. Menerima usupan dana dari orangtua, lalu menghabiskan untuk keperluan hidup dan sekolah. Bulan depan minta lagi karena sudah habis terpakai, ini berulang terus sampai bekerja. Selanjutnya, setamat kuliah kita memotivasi diri untuk mendapatkan tempat kerja yang paling bagus agar mendapat penghasilan terbesar, bukan berpikir menciptakan opportunity terbaik sehingga membuka lapangan kerja bagi lebih banyak orang.
Rama dan Dita, kader-kader Hindu di masa depan telah memulai tradisi dan gerakan ekonomi sejak dini. Kesempatan yang diberikan, telah mereka manfaatkan untuk mengasah insting dan naluri bisnis. Di siang hari,  mereka telah mulai berhitung. Hari ini Rama telah menjual 9 gelas dan dia berhak mendapatkan komisi seribu rupiah atas tiap gelas yang terjual. Alangkah bangganya Rama berhasil mendapatkan 9 ribu rupiah dari keringat dan usaha yang dia tunjukkan. Dengan seribu rupiah, gairah wirausaha telah mulai terbangkitkan, hasilnya dapat diharapkan  terlihat ketika mereka telah dewasa. Seandainya lebih banyak lagi yang melakukan dan mendapat kesempatan seperti Rama dan Dita, maka kader-kader Hindu yang memiliki insting bisnis seperti saudara kita etnik Padang dan Cina,  suatu saat pasti akan meramaikan dunia usaha dan perekonomian di Indonesia.. Bukankah menjadi Wesya merupakan tawaran pilihan warna yang sama mulianya  bagi Umat Hindu ? 
Adi Setiawan

Anggota LKPP Peradah* (Lembaga Kajian Penelitian & Pengembangan Peradah)
*LKPP Peradah: Badan otonom Peradah Indonesia yang melakukan kajian strategis serta menghasilkan pemikiran-pemikiran bernas bagi umat Hindu dan Bangsa Indonesia. 

Sejarah Peradah Indonesia


Sejarah Peradah Indonesia
Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa,
Sejak diakuinya Agama Hindu sebagai agama resmi oleh pemerintah Republik Indonesia, sampai dengan berdirinya Parisada Hindu Dharma pada tahun 1959, umat Hindu  belum memiliki organisasi kemasyarakatan (ormas) skala nasional. Hadirnya ormas nasional bernafaskan Hindu dibutuhkan, mengingat perkembangan populasi umat di seluruh Nusantara. Menghadapi situsi yang makin kompetitif, wadah organisasi formal nasional kian dibutuhkan untuk  melakukan koordinasi serta  pembinaan dan pendidikan dalam hal dharma  agama dan dharma negara.

Sebelum adanya organisasi kemasyaraktan nasional, pranata sosial yang ada dalam komunitas umat Hindu masih bersifat lokal. Dorongan untuk membentuk organisasi kemasyarakatan tingkat nasional bangkit di seluruh kantong umat Hindu di bumi Nusantara ini. Yang semula secara sporadis, baik di kota-kota besar, kampus-kampus, di desa-desa di wilayah pemukiman transmigrasi, dalam bentuk kelompok diskusi, organisasi suka duka krama banjar, dan lembaga sosial local menjadi satu kekuatan berhimpun secara nasional.

Sebagai respon atas dorongan berhimpun yang begitu kuat, pada bulan September 1983, beberapa cendekiawan, mahasiswa, dan generasi muda Hindu di Yogyakarta mengadakan pertemuan untuk mewujudkan sebuah organisasi yang meliputi komponen-komponen cendekiawan, mahasiswa, dan Pemuda Hindu Dharma bertaraf nasional. Pertemuan pada bulan September dilanjutkan pada bulan Oktober 1983, dan menghasilkan suatu keputusan bahwa akan diadakan usaha penjajakan bagi pembentukan sebuah Organisasi Kemasyarakatan Hindu tingkat nasional yang disebut sebagai Sarasehan Pembentukan/Formatur Ormas Hindu Dharma Tingkat Nasional.

Sarasehan tersebut dilaksanakan pada tanggal 19 dan 20 Nopember 1983, yang diakhiri dengan sebuah IKRAR yang ditandatangani oleh 150 orang termasuk Drs. I.B Oka Puniatmaja (Parisada), drg. Willi Pradnya Surya (DKI Jakarta), I.B Suandha Wesnawa,SH (Bali), I Wayan Sudirtha,SH (DKI Jakarta), I Ketut Renes (DKI Jakarta), IKA Sudiasna (Bandung), Agung K. Putra Ambara (Bandung), dan K. Sudana,SM.Hk (Bandung). Bunyi IKRAR tersebut sebagai berikut :

Om Swastiastu, 

Kami Umat Hindu yang mewakili komponen-komponen pemuda, mahasiswa, dan cendikiawan dari seluruh Indonesia, berikrar: 
Sepakat membentuk organisasi kemasyarakatan tingkat nasional sebagai satu wadah kegiatan dalam melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara yang berasas tunggal Pancasila. 

Dalam merealisasikan tujuan tersebut di atas, kami menyiapkan diri untuk menyelenggarakan Munas (Mahasabha), sebagai tindak lanjut dari kesepakatan ini, di Yogyakarta. Semoga Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa Asung Wara Nugraha atas kesepakatan dan kelanjutan tindakan kami bersama ini. 

Om Çanti Çanti Çanti Om

Akhirnya melalui sebuah proses yang panjang dan melelahkan pada tanggal 11 Maret 1984 dideklarasikanlah organisasi kepemudaan Hindu tingkat nasional yang pertama dan diberi nama Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Indonesia.
Nama Peradah Indonesia ini diilhami oleh 3 hal:
1.     “Mpu Bharadah”
seorang puruhita yang sangat terkenal, dalam sejarah Jawa Timur menyeesaikan permasalahan yang terjadi antara Kediri dan Daha.
2.    “Perada”
Warna kuning keemasan yang diyakini sebagai warna agung khususnya di Bali.
3.    ”Anak Polah Bapa Keperadah”
Slogan Jawa yang terkenal sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang dituakan atau leluhur.

Sejak pertamakali berdiri hingga sekarang Peradah Indonesia telah melaksanakan Mahasabha (Musyawarah Nasional) sebanyak 8 kali dengan kepengurusan yang dipimpin oleh 6 (enam) Ketua Umum dengan urutan dan periode kepengurusan sebagai berikut:
1.    I Gusti Ketut Gede Suena (1984 - 1989)
2.    Dra. Sylvia Ratnawati (1989 - 1993, 1993 - 1997)
3.    Gusti Putu Ngurah Wirawan (1997 - 2000, 2000 - 2003)
4.    Ketut Suratha Arsana (2003 - 2006)
5.    I Nyoman Gde Agus Asrama (2006 - 2009)
6.    I Komang Adi Setiawan (2009 - 2012)

Sabtu, 15 Desember 2012

Situs Religius, Mutiara Terpendam di Klungkung

OM Svastyastu,
DALAM hal akselerasi atau percepatan perkembangan sektor kepariwisataan, boleh jadi Kabupaten Klungkung dikategorikan tertinggal jauh dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Bali. Bumi Serombotan ini tidak punya objek wisata yang "secemerlang" pantai Kuta, pantai Sanur, Tanah Lot, Lovina, Candidasa maupun kawasan eksotik Nusa Dua.

Dunia pariwisata Klungkung relatif sepi dari ingar-bingar kehadiran wisatawan mancanegara maupun domestik. Masih untung, kabupaten dengan luas wilayah tersempit di Bali ini memiliki Kertha Gosa dan Taman Gili yang mampu memikat wisatawan lewat kemegahan arsitektur dan lukisan wayang stil Kamasan yang memenuhi langit-langit bangunannya. Di luar itu, tidak ada lagi objek wisata yang memikat.

Sementara kawasan pantai berpasir putih di Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan bak mutiara terpendam yang dipisahkan oleh Selat Badung berarus garang. Belum bisa digosok secara optimal akibat ketiadaan fasilitas penunjang seperti dermaga yang representatif, air bersih yang mencukupi, hotel-hotel maupun fasilitas penunjang kepariwisataan lainnya. Kondisi ini memaksa sektor kepariwisataan Klungkung tetap "merangkak" dalam mengejar ketertinggalannya dari "saudara-saudara kandungnya" di Bali.

Namun, di balik segala keminusan itu, Klungkung memiliki sejumlah "mutiara terpendam" lain yang potensial diasah menjadi objek wisata alternatif sekaligus untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat.

Mutiara terpendam itu adalah Pura-pura besar yang berdiri megah di wilayah Klungkung daratan maupun pulau tandus Nusa Penida. Sejumlah pura yang bisa dimasukkan ke dalam "barisan" itu adalah Pura Kentel Gumi (Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan), Pura Penataran Agung (Kelurahan Semarapura Kangin, Klungkung), Pura Dasar (Desa Gelgel, Klungkung), Pura Watu Klotok (Desa Tojan, Klungkung) dan Pura Goa Lawah (Desa Pesinggahan, Dawan), Pura Dalem Ped (Desa Ped, Nusa Penida), Pura Bukit Mundi (Desa Klumpu, Nusa Penida), Pura Batu Medau (Desa Suana, Nusa Penida) dan Pura Goa Giri Putri (Desa Suana, Nusa Penida).

"Pura-pura itu setiap piodalan diluberi oleh umat Hindu dari seluruh Bali untuk tujuan pedek tangkil. Dari segi arsitektur, pura-pura itu juga menyiratkan kemegahan dan keunikan tersendiri," kata Kasubdin Bina Objek Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Klungkung I Wayan Yudara, B.A. Kendati memiliki banyak mutiara terpendam, tambah Yudara, ternyata baru dua lingkungan pura (bukan pura-red) yang dimasukkan sebagai objek dan daya tarik wisata (ODTW) yakni lingkungan Pura Goa Lawah dan Pura Watu Klotok oleh Pemkab Klungkung. Dari dua pura Kahyangan Jagat tersebut, hanya Pura Goa Lawah yang sudah dikelola secara profesional atau "dijajakan" kepada wisatawan mancanegara dan domestik.

Sementara Pura Watu Klotok belum ada pengelolaan khusus, mengingat kawasan suci belum banyak "dilirik" wisatawan. Untuk bisa menikmati kemegahan Pura Goa Lawah yang terkenal dengan koloni kelelawarnya dari dekat, setiap wisatawan wajib membayar retribusi atau bea masuk. Nilai retribusi itu adalah Rp 2.000 untuk dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak. Khusus untuk umat Hindu yang berpakaian sembahyang dengan tujuan tangkil (bersembahyang), dibebaskan dari kewajiban membayar retribusi. "Semua pendapatan dari retribusi itu masuk ke kas daerah. Pemkab Klungkung punya sebuah tim khusus untuk memungut retribusi atau pun mengelola objek wisata pura tersebut," kata Yudara menambahkan, pengelolaannya tetap melibatkan desa adat dan desa dinas setempat.

Meskipun leading sector pengelolaannya adalah Disbudpar Klungkung, pihak-pihak yang ditugaskan untuk memungut retribusi, memantau aktivitas wisatawan serta pengamanan wilayah dipercayakan kepada sejumlah krama setempat. "Untuk mempertahankan kesucian pura, tidak sembarang tamu bisa masuk ke lingkungan pura. Wisatawan yang sedang menstruasi, misalnya, jelas dilarang keras. Di pintu masuk, kita telah pasang papan-papan peringatan. Mereka juga diwajibkan mengenakan kain dan amed (selendang) yang sudah dipersiapkan petugas," katanya seraya menegaskan, dengan adanya kewajiban membayar retribusi itu bukan berarti wisatawan bisa berbuat seenaknya.

Rambu-rambu yang ada wajib untuk ditaati.

Retribusi yang ditangguk dari objek wisata Pura Goa Lawah tidak sepenuhnya masuk ke kas daerah. Sebagian di antaranya masuk ke kas Bendesa Adat Pesinggahan sebesar 8%, Desa Dinas Pesinggahan (2%) dan 5% didistribusikan kepada petugas sebagai upah pungut. "Kontribusi untuk desa adat maupun desa dinas tetap ada, sebab itu hak mereka. Biasanya, kontribusi dari retribusi itu dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan pura dan perbaikan-perbaikan fisik pura yang sifatnya ringan. Pemanfaatan kontribusi sepenuhnya wewenang bendesa adat dan krama-nya untuk mengaturnya. Yang jelas, kami juga melakukan pembinaan-pembinaan intensif untuk menumbuhkan sadar wisata bagi petugas maupun warga lainnya yang beraktivitas di lingkungan Pura Goa Lawah. Di sana juga ada kios-kios yang menjual suvenir dan makanan ringan sehingga para pedagang juga wajib dibina agar tidak merusak citra kepariwisataan kita," katanya. Dia menambahkan, kunjungan wisatawan ke Pura Goa Lawah termasuk tinggi. Pada 2001 lalu, angka kunjungan wisatawan mencapai 30.913 orang. Sayang, angka itu anjlok menjadi 19.796 orang pada 2002 lalu. Penurunan angka kunjungan wisatawan secara drastis tentu berkaitan erat dengan Tragedi Kuta 12 Oktober 2002.

Nusa Penida Menurut Yudara, potensi pengembangan wisata religius juga terbuka lebar di Nusa Penida. Pulau tandus ini memang memiliki sejumlah pura megah yang bisa "dijual" kepada wisatawan. Pendapat Yudara itu dibenarkan pengelola Bungalo Nusa Garden, Nusa Penida Dewa Koming Widartha. Ditegaskan, para pelaku pariwisata di Nusa Penida belum ada yang melirik potensi wisata religius ini. Padahal, ada sejumlah pura atau bangunan suci yang sangat layak dikembangkan untuk kepentingan tersebut seperti Pura Luhur Dalem Ped, Pura Bukit Mundi, Pura Batu Medaung dan Pura Goa Giri Putri.

Pura-pura ini tidak hanya cocok untuk umat yang mendambakan kedamaian rohani, bentuk arsitektur bangunannya yang unik dengan ragam ukiran yang khas juga diyakini mampu "membius" para wisatawan. "Tujuan utama mereka datang ke sini memang untuk ngaturang sembah (sembahyang-red). Tetapi, di sela-sela kegiatan tirtayatra itu kan bisa diselingi dengan melihat-lihat keindahan alam Nusa Penida yang lain. Dengan begitu, masa tinggal wisatawan itu di Nusa Penida bertambah panjang," ujarnya.

Widartha menambahkan, dua pura yang sangat layak difavoritkan untuk kepentingan ini adalah Pura Luhur Dalem Ped dan Pura Goa Giri Putri. Pura Luhur Dalem Ped yang merupakan pura kahyangan jagat, misalnya, memiliki beberapa pelinggih pemujaan yang mencuatkan nuansa spiritualitas yang kental. Di bagian utara kompleks pura ini juga berdiri megah Pura Segara dengan arsitektur khas menyerupai ulam agung (ikan besar).

Di bagian lain juga ada taman yakni aelinggih yang dikelilingi kolam, palinggih Ida Batara Ratu Gede Mas Mecaling yang diyakini oleh krama Hindu sebagai penguasa jagat dan sejumlah palinggih lainnya. Seluruh bangunan itu memiliki arsitektur yang khas dengan ornamen atau ukiran batu padas putih khas Nusa Penida. "Paling tidak, dua kali dalam setahun krama Hindu di Bali pedek tangkil ke Pura Luhur ini untuk memohon keselamatan. Jumlah pemedek tidak hanya ratusan, tetapi mencapai ribuan," katanya.

Sementara di Pura Goa Giri Putri, para wisatawan akan disuguhi keajaiban alam yang memukau. Kompleks pura dengan arsitektur sederhana ini "tersembunyi" di dalam perut bumi (goa) yang sangat luas. Di dalam goa terdapat banyak stalaktit dan stalakmit yang indah. Di sana juga terdapat mata air sebagai sumber tirta yang dikeramatkan karena diyakini mendatangkan kesejahteraan dan keselamatan bagi pemedek. Hanya, pada waktu masuk ke dalam goa agak sulit. Para pemedek harus merangkak sekitar tiga meter melalui celah bebatuan yang sempit, sebelum akhirnya mencapai bagian goa yang cukup luas menyerupai terowongan bawah tanah. Di bagian inilah didirikan sejumlah palinggih untuk menggelar persembahnyangan. Di dinding goa bagian atas, juga terdapat cerukan (goa kecil-red) dengan bebarapa palinggih pemujaan. Namun, untuk sampai ke sana para pemedek harus menaiki sebuah tangga yang terbuat dari kayu. Pada areal ini juga terdapat sebuah ruangan berdiameter sekitar satu meter yang beralaskan pasir hitam.

Konon, tempat ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi dan ngalap (memohon) berkah. "Siapa pun yang masuk ke dalam goa ini, pasti akan terperangkap dalam suasana khusyuk. Tempat di sini sangat cocok untuk menenangkan pikiran," kata Widartha. (ian)

Maen Karet: UAS Statistik yang Penuh Kenangan

Maen Karet: UAS Statistik yang Penuh Kenangan: Hahhaha...  Today, beban gw uda hilang tentang satu Uas Statistik gw yang bener2 mengancam kehidupan bermasyarakat fapsi 2012, mungkin....

blog ini keren,,, banyak yang belum saya pahami,,, banyak isinya tentang curhat yaa

Segehan

Om Swastiastu
Dari akarkatanya Segehan tergolong CARU yang sederhana, kata segehan berasal dari kata Suguh, yang artinya mempersembahkan, sedangkan caru artinya Manis (harmonis/mengharmoniskan). Bhuta Kala dari kaca spiritual tercipta dari akumulasi limbah pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, yang dipelihara oleh kosmologi semesta ini. Jadi segehan yang dihaturkan di Rumah bertujuan untuk mengharoniskan kembali kondisi rumah terutama dari sisi niskalanya, yang selama ini terkontaminasi oleh limbah yang kita buat. Jadi Caru yang paling baik adalah bagaimana kita dapat menjadikan rumah bukan hanya sebagai tempat untuk tidur dan beristirahat, tapi harus dapat dimaknai bahwa rumah tak ubanya seperti badan kita ini. Jika kita dapat merawat kebersihan dan kesucian badan ini tentunya SANG ROH yang mendiami badan ini akan merasa damai dan senang, begitu pula rumah jika kita pelihara kebersihan dan kesuciannya dengan selalu menjaga kemurnian pikiran, perkataan dan prilaku, maka tidak akan ada secuil Bhuta Kala pun dirumah kita, dan kita akan merasa aman dan nyama di rumah tsb, namun sebaliknya jika tidak dirawat lebih-lebih di rumah itu kita sering berpikir yang negatif, berkata -kata kasar dan bohong serta berprilaku yang tidak santun, apalagi dirumah sering diadakan SEMINAR (sekeha minum arak), Mabuk, Main (judi), Madon (WIL/PIL), Maling, Madat. sebesar sesering dan sebesar apapun segehan atau caru yang dihaturkan tentunya itu pekerjaan sia-sia.
Segehan dihaturkan kepada aspek SAKTI (kekuatan ) yaitu Dhurga lengkap dengan pasukannya termasuk Bhuta Kala itu sendiri. Menurut pendapat tiang, mesegelah dengan menggunakan makanan yang kita makan, kalau dirumah memasak cap cay, haturkanlah cap cay sebagai segehan. Namun sarana yang dimaksud oleh Pak Meranggi, juga ada artinya semisal Bawang itu bersifat dingin, Jahe  bersifat panas, dan garam bersifat netral, sedangkan alkohol adalah alat yang sangat efektif  dipakai untuk menetralisir bakteri, virus. makanya para dokter menggunakan alkohol sabagai alat sterilisasi.  Segehan dan Caru banyak disinggung dalam lontar KALA TATTVA, lontar BHAMAKERTIH. Kalau dalam Susastra Smerti  (Manavadharmasastra) ada disebutkan bahwa setiap kepala keluarga hendaknya melaksanakan upacara BALI (suguhan makanan kepada alam). dan menghaturkan persembahan ditempat tempat terjadnya pembunuhan, seperti pada ulekan, pada sapu, pada kompor, pada asahan pisau, pada talenan.
Jadi segehan/caru yang paling utama adalah menjaga kemurnian pikiran, ucapan dan prilaku, dengan berjapa, mekidung, dharma tula, dan meditasi tentunya.
membuat caru dengan daging saat ini sudah kurang relevan, apalagi dengan dalih untuk Nyomia dan Nyupat Bhuta Kala. Jangankan Nyupat Bhuta Kala,................Nyupat diri sendiri saja belum mampu.


http://www.facebook.com/ketut.swandana.1

Siwaratri, Mari Berburu Kebaikan

Filsafat puja Siwaratri disampaikan Mpu Tanakung dalam media cerita si pemburu bernama Lubdaka. Lubdaka sendiri artinya pemburu. Dalam jagra Siwaratri sehari mulai Sabtu (28/1) malam ini, umat Hindu diharapkan mulat sarira (introspeksi) dan berburu (berbuat) atau mencari kebaikan.

ITU disampaikan Drs. I Putu Arnawa, S.Ag., M.Si. dan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Karangasem Dra. Ni Nengah Rustini, Jumat (27/1) kemarin di Bale Lembu Puri Gede, Amlapura. Arnawa yang juga dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Agama Hindu (STKIP AH) Amlapura itu mengatakan Mpu Tanakung sangat berhasil memasukkan filsafat Siwaratri ke dalam cerita Lubdaka si pemburu. Karena itu, umat yang awam kerap melaksanakan Siwaratri seakan-akan meneladani si pemburu Lubdaka yang secara tak sengaja mengikuti yoga semadhi batara Siwa. Pada akhirnya saat meninggal, si pemburu itu memperoleh swarga (surga). Kini, lanjut Arnawa, umat Hindu diajak melakukan perenungan, guna mencari hakikat hidup sebagai manusia. Usai melakukan perenungan dan memperoleh kesadaran tentang hakikat hidup ini, diharapkan umat mampu memperbaiki sifat dan perilakunya menjadi lebih baik ke depan. Jika itu berhasil dilakukan atau umat mampu memperbaiki perbuatannya diharapkan mampu mengurangi atau tak lagi melakukan perbuatan buruk (dosa).

Momentumnya tepat melakukan penyadaran diri, katanya, pada Siwaratri yang datang tiap tahun tepatnya pada purwaning tilem kapitu. Berdasarkan telaah kosmologis, hari itu merupakan malam tergelap selama setahun. Saat itu, Siwa turun ke dunia melakukan yoga semadhi, guna menghindarkan alam semesta beserta isinya dari kegelapan yang menghancurkannya.

Menurut Arnawa, sesungguhnya kita hidup adalah sebagai pemburu. Menyadari hakikat hidup itu sendiri, hendaknya umat Hindu memburu kebaikan. Seorang pelajar harus memburu ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Setelah mendapat ilmu, mereka mesti berburu (berlomba) mengamalkan ilmu itu untuk kebajikan. Seorang guru, selain terus memburu ilmu kebaikan juga mesti berlomba (berburu) mengajarkan ilmunya selain kepada siswanya juga kepada masyarakat luas. Seorang yang berporfesi sebagai pedagang dengan didasari ajaran kebenaran (agama), hendaknya memburu keuntungan. Harta dari keuntungan berdagang itu hendaknya digunakan memburu kebaikan, dan seterusnya.

Karena itu, dalam melaksanakan jagra Siwaratri hendaknya dilakukan dengan benar. Menurut pemilik Puri Gede Drs. AAB Ngurah Agung, pelaksanaan Siwaratri baik dilakukan seperti di tiap banjar. Usai persembahyangan bisa dilanjutkan membaca kitab suci, berdiskusi tentang keagamaan (hakikat hidup). Pelaksanaan puja Siwaratri tak cukup semata dengan begadang semalam suntuk, apalagi disertai cuma dengan hiburan bersifat hura-hura ditambah minum miras, ujar Ngurah Agung.

Sementara itu, Ketua Kelompok Belajar Sastra Bali di Banjar Telaga, Sibetan, Bebandem I Nyoman Jati, merencanakan mengajak ratusan siswanya mengapresiasi sastra Bali, seperti makidung, mengulas puisi bahasa Bali, serta masatwa Bali.

Darma wacana itu digelar Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Karangasem bekerja sama dengan lembaga lainnya. Kegiatan dalam rangka Dharma Prasanthi itu diikuti ratusan siswa, mahasiswa, dan pengurus organisasi kepemudaan di Karangasem. (bud)

Konsep Tentang Tuhan-Dewa & Bhatara

Oleh : Jeromangku _Sudiada@Yahoo.com
Agama Hindu adalah merupakan agama yang tertua di dunia, setidak-tidaknya mempunyai segudang ajaran yang tidak mudah mengerti, sebagai akibat pertumbuhan dan perpaduan dari berbagai tradisi, mempengaruhi diberbagai wilayah yang luas, tanpa terkendalikan.
Berbagai perbedaan konsep dan pengertian telah berkembang sebagai akibat, perbedaan cara berpikir dan cara penafsirannya atas satu pokok keimanan yang sama tentang Tuhan, oleh karena itu menjadi suatu keharusan yang tak dapat dielakan untuk mempelajari pokok-pokok pengertian tentang ketuhanan.
Sebagai keimanan dalam system pengahayatan, sebagaimana dalam kita jumpai dalam berbagai ungkapan dalm veda, demikianlah yang diharapkan dalam system hindu agar benar-benar mengerti dan menghayati agar dalam berpikir tentang tuhan, perbedaan bahasa, tidak akan mempertajam perbedaan, pengertian, dan pada hakekatnya, tidak berbeda maksud dan tujuannya itu.
Supaya kita tidak terlanjur rancu pengertian Tuhan, mari kita lihat definisi tentang tuhan terlebih dahulu.
Ada berjuta-juta konsep / definisi tentang Tuhan, serta unlimited tentang nama tuhan, termasuk keesaan, kebesaran serta Hyang Maha Tau, ( Hyang Vidhi) Hyang Maha Kawiya ( Pencipta). Salah satu contoh saya ambilkan dalam kitab Brahma sutra 1.1.2. lengkapnya berbunyi sebagai berikut :
JANMADHIYASASYA YATAH = Tuhan adalah dari mana mula atau asal semua ini = Tuhan adalah merupakan sumber dari segala yang ada, dan yang ada akan kembali kepada sumbernya.
Kata ini diartikan semua ciptaan yaitu, alam semesta beserta isinya termasuk Dewa-dewa dan lai-lainnya. Tuhan merupakan prima-causa yang adanya bersifat mutlak, karena harus ada sebagai sumber atas semua yang ada, tanpa adanya Tuhan tidaklah ada ciptaan ini.
Jadi antara sang pencipta dengan yang diciptakan tidaklah sama, artinya Tuhan tidaklah sama dengan yang tidak Tuhan, namun dalam bahasa kita sering dihadapkan dalam suatu kenyataan yang sulit dimana kata Dewa yang digunakan dalam bahasa Veda yang mempunyai arti yang sepintas sama, kadang kadang kita tidak pernah menyadari dan tidak pernah tahu dalam soal itu .
Menurut Rig Veda X.129. Dewa diciptakan olehnya setelah menjadikan alam semesta berikut isinya. Jadi Dewa bukan Tuhan, karena Dewa adalah ciptaanya.
Jelas dalam konsep pelinggih di Bali dibuatkan stana sebagai berikut :
Stana yang tak terlahirkan / tak terciptakan ditempatkan dalam Padmasana, dengan symbol “ACINTYANYA” sedangkan yang terlahirkan dibuatkalah Gedong dalam konsep Trikahyangan : Baleagung, Puseh ,Dalem.
Selanjutnya dalam Rg Veda X.12.8 dan X 90.3. yang mengatakan bahwa “ Tuhan melebihi sinarnya yang bahasa lainya disebut DEWA,  sedangkan dalam kalimat
DEWA-DEWA mahluk Tuhan yang sama pengertiannya dengan malaikat
Disamping itu, masih banyak pengertian lain, yang menjelaskan tentang Dewa, Rg Veda VIII.57.2. dijelaskan tentang banyaknya jumlah Dewa, yaitu sebanyak 33 Dewa dan terdapat dalam tiga mandala.
Didalam kaitan Aranyaka upanisad III.9.1. tentang adanya 33 dewa, yang terdiri dari 8 Vasu,
8 Vasu itu adalah :
Agni(Panas), Pretivi(Dhara), Vayu (angin), Dyaus( Langit), Surya (Matahari) Savitra (Aha) Soma (candra) dan Druva.(bintang)
11 Rudra,
Salah satu aspek Dewa-dwea yang merupakan aspek kehidupan yang dapat diartikan adalah sbb:   Mempunyai suara yg menakutkan,  Mempunyai warna merah,  Menyebabkan menangis.
Eka dasa Rudra = 11 Rudra yaitu, sepuluh Rudra merupakan unsurprana yang ada pada diri manusia, dan yang satu lagi adalah unsue atman, dalam ilmu Mantram ke sebelas Rudra ini disebutkan dalam 11 aksara yaitu :
Da, Dha, Na, Ta, Tha, Da, Dha, Na, Pa, Pha, & Ba.
Nama Rudra sering diartikan sama dengan Ciwa, Rudra dihubungankan dengan 11 aksara sebagai linggam Atma yaitu : Sing, Tang, Mang, Bang, Ang, Wang, Nang, Ang, Ung, Mang & Ong.
12, Aditya  Indra dan Prajapati.
Demikian pula halnya Aditi / Aditya yang terdiri dari :
TRANSCENDENTALIMMANEN
1. Mitra1. Waruna
2. Aryaman2. Daksa
3. Bhaga3. Amsa
4. Teastri4. Savitri
5. Pusan5. Sukra
6. Wiwaswat6. Wisnu.
Terkadang dalam bahasa Veda, Tuhan yang maha esa dan para Dewa atau Dewata, kata ini berarti Cahaya, berkilauan dan sinar gemerlapan yang semuanya itu ditujukan kepada manifestasiNYA.


Kembalilah Kepada Tuhan

SETIAP orang tidak bisa menghindari suka lara pati, yaitu kebahagiaan, penderitaan dan kematian. Pada waktu menikmati kesukaan umumnya orang lupa kepada Tuhan, tetapi bila penderitaan menimpa ataupun kematian mendekatinya orang baru teringat kepada Tuhan. Sejak lahir manusia diperkenalkan dengan isi dunia, dan asik bermain-main dengan isi duniawi. Tidak pernah memikirkan apalagi berterima kasih kepada pemilik daripada benda-benda itu. Sudah sepatutnyalah berburu kesenangan duniawi itu dikurangi dengan mengalihkan pandangan kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini.

Kesenangan akan benda-benda duniawi tidak akan pernah dapat dipuaskan dengan memenuhi kesenangan itu sendiri. Seperti menyiram api dengan minyak, api akan berkobar semakin besar. Setitik kesenangan yang kita nikmati selalu terdapat bibit penderitaan didalamnya. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah terdapat didalam kekayaan yang berlimpah, ataupun pemuasan hawa nafsu yang tidak terbatas. Kesenangan yang hampa dan selalu diikuti oleh kedukaan adalah hasil dari perburuan terhadap benda-benda duniawi. Di masyarakat yang menilai segala sesuatu dari sudut benda dan memakai ukuran benda akan berkembang penyakit menular yaitu stress.

Bila anda menghadapi pekerjaan yang berat dan penuh bahaya, maka keragu-raguan dan ketakutan akan menghantui diri anda, karena itu untuk menghilangkan keraguan itu sebutlah nama Tuhan. Menurut ajaran agama Hindu, setiap apa pun yang akan anda lakukan sebelum memulai pekerjaan itu didahului dengan mengucapkan Om, sebagai simbol Nama Tuhan. Setiap memulai pekerjaan, pikiran dipusatkan sejenak kepada Tuhan dan menyebut nama-Nya untuk memohon restu-Nya, agar adanya kegairahan dalam bekerja dan mengundang keberhasilan.

Dengan demikian, maka kita akan takut untuk berbuat sesuatu yang menyimpang dan tidak direstui-Nya. Bila anda pernah berbuat suatu dosa yang selalu membayangi pikiran anda sehingga tidak bisa tidur dengan nyenyak, ketakutan memburu anda, maka serahkanlah diri kepada Tuhan, lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, maka penderitaan akan berkurang dan akhirnya akan memberikan ketenangan. Tidak ada istilah terlambat bagi kita untuk menjalankan kebenaran dalam mencari Tuhan.

Seperti halnya sang Ratnakara yang seorang pencuri dan perampok, namun dalam kariernya sebagai pencuri dia bertemu dengan seorang Maharsi yang sedang mengajarkan kitab-kitab Weda dan ayat-ayat Weda yang didengarnya menyentuh hatinya, hingga akhirnya ia bertobat dan bahkan sebagai perwujudan tobatnya itu dia menghukum dirinya dengan melakukan tapa yang sangat berat yaitu tanpa bergerak dan bergeser sedikit pun dari tempatnya bertapa sampai bertahun-tahun lamanya, hingga tubuh sampai ke lehernya ditutupi oleh gundukan rumah semut. Karena ketekunannya dalam tapa dan penyerahan diri kepada Tuhan dengan tulus sehingga memberikan kemukjizatan kepadanya, yang menyebabkan ia menjadi seorang suci yang penuh dengan cinta kasih, dan dikenal dengan nama Bhagawan Walmiki. Cerita ini menunjukan bahwa dengan kesungguhan dan kebulatan tekad maka seseorang itu dapat kembali pada kebenaran yaitu Tuhan.

Kesungguhan dan tekad sangat penting untuk mendapatkan pengampunan Tuhan. Demikianpula tekad yang kuat dapat mengalihkan kenekatan jahat menjadi kenekatan menyerahkan diri kepada Tuhan. Oleh karena itu janganlah larut di dalam penyesalan dan kedukaan, serahkan diri kepada Tuhan. Menyebut nama Tuhan dan menuliskan nama Tuhan besar sekali manfaatnya. Seperti halnya sang Hanuman dalam memimpin pasukan kera saat membuat jembatan Situbanda, ia senantiasa menuliskan nama Rama pada setiap batu dan selalu mengucapkan nama Rama. Walaupun pekerjaan itu luar biasa hebatnya, namun kegembiraan memuja Rama memberikan keberhasilan. Bagi Hanuman seluruh hidupnya diabdikan untuk Rama dan selama hidupnya ia tidak pernah melupakan wajah Rama. Dan setelah perang selesai, sang Hanuman diberikan sebuah kalung mutiara oleh Dewi Sita sebagai hadiah, setelah melihatnya sejenak lalu sang Hanuman menggigit dan membuang mutiara itu. Sehingga timbul keheranan dari Maharsi agastya dan bertanya kepada Hanuman mengapa ia melakukan hal itu. Lalu sang Hanuman mengatakan bahwa dalam setiap butiran mutiara itu tidak ditemukannya wajah Sri Rama dan apalah gunanya mutiara baginya yang hanya seekor kera.

Lalu Maharsi Agastya berkata “Hanuman jangan kamu merasa diri paling bhakti pada Sri Rama, apakah dalam hatimu sungguh-sungguh kamu memuja Sri Rama?” maka Hanuman pun merobek dadanya dengan kukunya yang tajam dan tampaklah dalam hatinya gambar Sri Rama dan Sita. Semua yang menyaksikan hal itu menjadi heran dan akhirnya Sri Rama pun berkata “baiklah Hanuman hadiah yang kuberikan kepadamu adalah diri kami berdua, kami adalah milikmu selamanya, simpanlah kami selalu di dalam hatimu. Maka Hanuman pun menyembah dengan puas. Demikianlah Hanuman sebagai contoh dari orang yang selalu bhakti, ingat dan selalu berbuat demi untuk tuannya yaitu Sri Rama yang merupakan awatara Wisnu.

Ingat kepada Tuhan, selalu mengenang wajah-Nya dan menyebut nama-Nya berulang-ulang, akan mengusir kabut penderitaan, menghindarkan kita dari kesalahan dalam bertindak dan menjadikan hidup kita lebih bersemangat. Nasib sial yang menimpa diri kita, walaupun sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi nasib itu datang juga, seperti halnya kematian seorang anak atau kegagalan dalam usaha, maka janganlah menjadikan kita putus asa dan jangan pula penderitaan menjadi beban, karena semua penderitaan akan datang dan pergi seperti awan di langit. Oleh karena itu di dalam keadaan yang gawat, jangan biarkan pikiran menjadi panik, pujalah Tuhan, serahkan segala beban penderitaan hidup pada-Nya, sampaikanlah penderitaan itu dengan tulus dan jujur, mohon pengampunan padaNya, maka kita akan merasakan beban penderitaan itu makin berkurang. Kepercayaan kepada Tuhan penting sekali, karena kepercayaan kepada-Nya dapat meredam segala penderitaan. Jangan kuatir Tuhan akan berat memikul segala beban yang anda derita karena Tuhan bukan memikul beban anda saja, tetapi berat seluruh alam semesta ini adalah beban yang dipikul oleh Beliau. Betapapun tingginya tegangan listrik yang ditimbulkan oleh halilintar, begitu menyentuh bumi seketika tegangan itu menjadi tawar, demikian pula penderitaan yang anda rasakan betapapun perihnya, tetapi bila doa anda sampai pada Tuhan maka semua penderitaan anda itu akan tawar dengan sendirinya. Janganlah lupa akan kewajiban kita untuk senantiasa mendekatkan diri dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberikan kehidupan pada kita semua baik saat kita mendapatkan suatu keuntungan dan kebahagian maupun saat kita tertimpa masalah yang mengakibatkan kerugian dan penderitaan, karena pemecahan masalah yang paling utama adalah kembali kepada Tuhan.**

Hidup dengan Cinta Kasih

Oleh: I Made Murdiasa, S.Ag
SIFAT benci, marah dan iri hati adalah tiga sekawan yang lahir dari kemelekatan dan keakuan (egois). Bila ketiganya ini dimiliki oleh seseorang, maka jadilah dia orang yang paling menderita karena ketegangan dan frustasi. Rasa benci adalah pembunuh kegembiraan yang paling besar, tidak ada kegembiraan maupun ketenangan dihati mereka yang memiliki rasa benci. Seseorang menjadi benci karena melihat orang lain berhasil dan banyak punya pengikut. Ke"akuannya"tidak membenarkan orang lain menyaingi dirinya, baik dalam materi, kekuasaan maupun pengaruh. Dengan segala tipu dan cara ingin dia melenyapkan saingannya itu namun kekerasan ini selalu dapat dikalahkan dengan cinta kasih yang tulus. Kami akan mengutifkan dua buah contoh dari kejahatan yang ditimbulkan oleh rasa benci yang selalu dibalas dengan cinta kasih yang tulus.

Maharsi Dayananda mempunyai tukang masak yang sudah lama melayaninya yang bernama Jagannatha. Pada suatu hari Jagannatha disuap oleh seseorang yang benci kepada maharsi Dayananda ia dibujuk agar mau membubuhkan racun pada makanan yang akan dihidangkan kepada maharsi. Karena tergoda oleh uang yang dijanjikan maka jagannatha pun mau melakukannya. Akibatnya maharsi Dayananda keracunan hebat sehingga tidak bisa bangun dan tinggal menunggu ajalnya.

Dalam keadaan yang demikian maharsi memanggil Jagannatha: "Ini adalah uang untuk membeli tiket perjalananmu pulang ke Nepal. Cepatlah pergi sebelum pengikutku tahu, apa yang engkau telah perbuat, kalau tidak mereka akan mencabik-cabik tubuhmu menjadi berkeping-keping".

Contoh yang lain adalah Mahatma Gandhi pelopor perjuangan Swadesi/cinta kasih, dengan tanpa kekerasan memboikot industri inggris dengan memajukan Swadesi. Akibatnya ada juga orang benci kepadanya karena Mahatma Gandhi dipatuhi oleh rakyatnya. Kebencian telah menyebabkan seseorang menembak Mahatma Gandhi dengan senapan sehingga peluru menembus dadanya. Waktu itu Mahatma Gandhi meminta kepada mereka yang berusaha menolongnya agar membebaskannya dan mengampuni orang yang menembak dirinya.

Apa sebab maharsi Dayananda dan Mahatma Gandhi mudah sekali memaafkan orang yang membencinya? karena cinta kasih telah menjadi darah dagingnya, betapapun besar kebencian orang dijawab dengan uluran kasih. Karena kebencian tidak akan bisa dilenyapkan dengan kebencian, kebencian akan bisa dilenyapkan dengan cinta kasih. Kita melihat didalam cerita silat dimana kebencian selalu dibalas dengan kebencian dan akibatnya adalah kehancuran semata-mata.

Bagi mereka yang meninggal dan masih membawa dendam akibat kebenciannya sewaktu masi hidup di dunia, mereka akan sengsara, rohnya akan gentayangan menjadi hantu, ingin membalaskan dendamnya kepada orang yang dibencinya. Rohnya tersesat tak bisa masuk sorga karena kemelekatan pada kehidupan didunia, padahal dia tidak mempunyai jasad lagi. Anak-anak sekarangmungkin sulit bisa menerima sikap dari Mahatma Gandhi yang dianggapnya konyol, pasip dan menyerah. Hal ini disebabkan oleh pengaruh film-film mandarin yang selalu bertemakan pembalasan dendam dengan dalih menuntut keadilan. Permusuhan yang turun - temurun karena balas membalaskan rasa benci pasti menghancurkan kedua belah pihak.

Kemarahan akan sama buruknya dengan kebencian. Kemarahan menjadikan orang lupa kepada kebenaran. Kata-kata yang keras dan tajam serta tindakan yang kejam selalu muncul dari orang yang marah. Akibatnya kebaikan yang telah dirintis bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu menit akibat kemarahan. Kemarahan akan bisa menjadikan mata gelap dan pikiran buntu. Sadarlah dan ingatlah bahwa kemarahan itu seperti setumpuk jerami kering yang disulut dengan sebatang korek api akan musnah dalam sekejap. Demikian pula akibat kemarahan akan menghancurkan kebaikan-kebaikan yang terdahulu dalam sekejap.

Demikian pula dengan sifat iri hati adalah merupakan kebodohan yang sia-sia. Ketidaksenangan melihat orang lain berhasil serta kekecewaan karena diri sendiri tidak mampu, melahirkan iri yang menyesakkan dada. Iri hati adalah perpaduan antara "kemelekatan dengan ke-aku-an". Untuk melenyapkan iri hati maka lenyapkanlah kemelekatan dan keakuan itu melalui kesadaran. Sadarlah bahwa kita tak lebih dari seorang kasir yang beruntung dipercaya oleh Ida Sang Hyang Widhi untuk menjaga milik Beliau. Karena itu apa yang dapat dibanggakan oleh seorang kasir? Perasaan yang mengira diri berjasa, merasa diri diperlukan atau diperhitungkan patut kita buang jauh-jauh untuk menghilangkan kesombongan diri "ego"itu. Kita berhutang kepada bumi ini yang telah memberi kita makan, minum dan udara yang bersih oleh karena itu kita harus bayar dengan kerja dan bhakti yang tulus iklas dan penuh kesadaran. Dengan kesadaran akan kenyataan ini maka kemelekatan dan keakuan akan lenyap karena dengan sikap yang penuh cinta kasih segala sifat iri hati pun akan lenyap.**

Pelinggih Ider Bhuwana

Isa vasam idam sarvam.
yat kim ca jagatyam jagat.
tena tyaktena bhunjitha
ma grdhah kasya svid dhanam

(Yajurveda, LX.)

Maksudnya:
Tuhan Yang Maha Esa itu berstana di seluruh alam semesta baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak yang memiliki kehidupan. Tidak ada bagian alam tanpa kehadiran Tuhan Yang Maha Esa itu. Pandanglah dunia ini dengan ketidakterikatan. Dan, jangan sama sekali menginginkan kekayaan milik orang lain.

Tempat pemujaan umat Hindu yang disebut pura itu adalah simbol alam semesta atau Bhuwana Agung. Karena pada hakikatnya stana Tuhan itu adalah alam semesta itu sendiri. Weda juga menyatakan bahwa Tuhan seperempat maha ada di alam ini dan tiga perempatnya di luar alam semesta.

Di belakang bangunan suci (pelinggih) Padma Tiga pada Mandala kedua Pura Penataran Agung Besakih terdapat sebuah bangunan berupa balai yang dibangun di atas alas yang cukup tinggi sejajar dengan Pelinggih Padma Tiga. Bangunan suci berupa balai tersebut bernama Balai Pesamuan. Di sebelah kiri Balai Pesamuan terdapat Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana. Dua pelinggih ini memiliki hubungan yang sangat erat dalam menggambarkan keberadaan Kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa di alam semesta ini.

Sebagaimana telah diuraikan dalam beberapa tulisan bahwa Pura Besakih sebagai lambang alam semesta stana Tuhan yang Maha Esa. Berbagai dimensi alam semesta (Bhuwana Agung) atau makrokosmos divisualisasikan dalam berbagai simbol dalam berbagai bentuk arsitektur sakral di Pura Besakih. Seperti ada kelompok Pelinggih Soring Ambal-ambal yang menggambarkan alam bawah yang disebut Sapta Patala yaitu tujuh lapisan bumi ke bawah.

Sementara adanya kelompok Pelinggih Luhuring Ambal-ambal sebagai pelinggih yang menggambarkan alam atas yang disebut Sapta Loka yaitu tujuh lapisan langit sorga. Titik sentral Pelinggih Soring Ambal-ambal ada di Merajan Selonding dekat Pura Ulun Kulkul, tempat pemujaan Tuhan sebagai Mahadewa yang ada di bagian barat Pura Penataran Agung Besakih. Sedangkan titik sentral kelompok pelinggih di Luhuring Ambal-ambal ada di Pelinggih Kehen Meru Tumpang Lima di Mandala ketiga Pura Penataran Agung Besakih.

Pelinggih Soring Ambal-ambal dan Luhuring Ambal-ambal itu melukiskan bahwa Tuhan itu berada dan dipuja di kedua lapisan alam semesta itu. Di Balai Pesamuan itu sebagai tempat upacara yang melukiskan berkumpul dan bersatunya semua dewa-dewa manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang dipuja di kompleks Pura Besakih, baik yang ada di Pelinggih Soring Ambal-ambal maupun di Pelinggih Luhuring Ambal-ambal. Upacara yang melukiskan semua dewa manifestasi Tuhan berkumpul di Balai Pesamuan itu umumnya dilakukan saat ada upacara Batara Turun Kabeh. Kata Batara Turun Kabeh artinya semua dewa manifestasi Tuhan yang disebut Batara itu urun dan bersatu untuk memberikan anugerah kepada umatnya yang berbakti pada Tuhan. Upacara Batara Turun Kabeh ini dilakukan setiap tahun pada Sasih Kedasa.

Saat dilangsungkan upacara Batara Turun Kabeh itu simbol-simbol sakral yang utama yang ada di semua kompleks Pura Besakih itu diusung secara ritual dan distanakan di Balai Pesamuan. Hal ini menggambarkan bahwa semua para dewa bersatu untuk memberikan karunia kepada umat sesuai dengan kadar karma dan baktinya.

Hal ini sesungguhnya sangat menarik untuk dipahami secara teologi Hindu. Agama Hindu mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa tetapi kemahakuasaan Tuhan itu tiada terbatas. Manusia tidak mungkin dapat memahami dan mampu memuja Tuhan dengan semua kemahakuasaan-Nya.

Dalam ajaran Hindu kemahakuasaan Tuhan itu disimbolkan ada di seluruh penjuru. Artinya ada di delapan penjuru angin dan tiga di tengah yaitu bawah tengah dan atas. Tidak ada penjuru alam ini tanpa kehadiran Tuhan. Seluruh penjuru itu dilambangkan menjadi sebelas penjuru. Seluruh penjuru itu kalau dihubungkan dengan suatu garis akan melingkar bulat. Karena itu, Bhuwana Agung itu dilukiskan sebagai Pelinggih Ider Bhuwana stana Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu kini di Balai Pesamuan ada Pelinggih Ider Bhuwana di Penataran Agung Besakih.

Konsep pemujaan Tuhan menurut Hindu adalah mengaitkan pemujaan itu untuk mencerahkan kehidupan pemujanya. Kalau ia sebagai petani sawah Tuhan dipuja sebagai Dewi Sri. Kalau pedagang di pasar memuja Tuhan sebagai Dewi Laksmi yaitu Tuhan sebagai dewa keberuntungan. Dewi Sri, Tuhan sebagai dewa kesuburan pertanian.

Demikian juga Tuhan dipuja di semua penjuru alam semesta. Kalau Tuhan itu dipuja di sembilan penjuru disebut Dewata Nawa Sangga. Kalau Tuhan itu dipuja di sebelas penjuru maka Tuhan itu dipuja di sebelas penjuru maka Tuhan itu disebut Eka Dasa Dewata. Jadinya sinar kemahakuasaan Tuhan itu ada di mana-mana.

Dalam konsep Siwa Sidhanta, Tuhan yang dipuja untuk melindungi arah timur disebut sebagai Dewa Iswara. Sebagai pelindung arah barat Tuhan dipuja sebagai Dewa Mahadewa. Di arah utara dipuja sebagai Dewa Wisnu dan di selatan Tuhan dipuja sebagai Dewa Brahma. Di tengah dipuja sebagai Dewa Siwa. Demikian seterusnya.

Sesungguhnya Tuhan itu tetap esa dan mahakuasa menurut ajaran agama Hindu. Di seluruh kompleks Pura Besakih, Tuhan dipuja sebagai dewa-dewa sinar kemahakuasaan-Nya. Seluruh dewa manifestasi Tuhan itulah yang dipuja di Balai Pesamuan saat ada upacara Batara Turun Kabeh. Hal ini sebagai suatu upacara untuk mengingatkan umat Hindu agar dalam segala aspeknya kehidupannya selalu berpedoman pada penguatan spiritual yang bersumber dari ajaran agama sabda Tuhan.

Di Balai Pesamuan itulah media untuk menyeimbangkan wawasan hidup yang utuh dan tidak mendikotomikan perbedaan berbagai aspek kehidupan. Misalnya ada orang yang hanya mementingkan sembahyang saja dalam beragama. Tetapi tidak melakukan perbuatan jujur dan baik dalam berbisnis. Justru saat sembahyang mereka mohon kepada Tuhan semoga permainan busuknya dalam bisnis atau politik misalnya tidak diketahui orang lain.

Dewa-dewa yang distanakan di seluruh kompleks Pura Besakih mencerminkan semua aspek kehidupan untuk dimohonkan peningkatan menuju kesucian. Hal inilah yang disatukan di Balai Pesamuan saat ada upacara Batara Turun Kabeh. Balai Pesamuan juga sebagai simbol Ida Batara Tedun menjumpai umatnya. Melakukan pesamuan agar sweca yang dianugerahkan sesuai dengan baktinya umat dan masineb untuk kembali ke keluhuring akasa yaitu alam Brahman.

* I Ketut Gobyah

Tuhan Itu Esa dan Berada di Mana-mana

Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana berada di sebelah kiri Balai Pesamuan atau di hulu atau di luanan dari Salu Panjang di Pura Penataran Agung Besakih. Kalau Balai Pesamuan simbol alam semesta tempat para dewa manifestasi Tuhan untuk menurunkan karunia kepada semua ciptaan-Nya, sedangkan Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana adalah simbol alam semesta atau Bhuwana Agung yang tunggal sebagai stana Tuhan Yang Maha Esa.

===========http://www.facebook.com/ketut.swandana.1====================

Dua pelinggih warisan arsitektur sakral di Pura Penataran Agung Besakih dapat dijadikan bahan renungan untuk memahami secuil rahasia Tuhan yang amat luas itu. Menurut pemahaman Weda, Tuhan itu esa, tetapi kemahakuasaan Tuhan itu tiada terbatas. Tidak mungkin manusia dapat memahami demikian luasnya kemahakuasaan Tuhan itu.

Adanya dewa-dewa itu tiada lain adalah upaya manusia yang telah berkualifikasi Maharesi untuk menyebutkan kemahakuasaan Tuhan secara terbatas. Kemahakuasaan Tuhan sebagai mahapencipta disebut Dewa Brahma, sebagai pelindung dan pemelihara disebut Dewa Wisnu, sebagai pemeralina disebut Dewa Siwa. Demikian seterusnya.

Tetapi, kemahakuasaan Tuhan bukanlah sebatas itu. Tuhan itu ada di mana-mana yang disebut vyapi vyapaka nirvikara. Artinya, Tuhan ada di mana-mana di tempat yang amat kecil maupun di tempat yang mahaluas sekalipun, tetapi Tuhan selalu mengatasi semuanya itu. Misalnya Tuhan berada di tempat yang busuk, tetapi tidak terpengaruh oleh busuknya tempat tersebut. Demikian juga Tuhan berada di tempat yang harum, tetapi Tuhan tidak terpangaruh oleh harumnya tempat tersebut.

Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana di Penataran Agung Besakih adalah sebagai simbol yang dapat memberikan umat Hindu pemahaman. Tuhan berada di seluruh alam semesta maupun di luar alam semesta. Apa makna dari perlunya pemahaman bahwa Tuhan berada di mana-mana itu.

Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana itu dapat dijadikan rujukan agar umat dapat mendayagunakan keyakinan bahwa Tuhan itu berada di mana-mana. Dapat berdaya guna untuk mengontrol dinamika manusia saat berpikir, berkata, dan berbuat. Kalau keyakinan ini kuat eksistensinya dalam diri umat maka keyakinan itu dapat berfungsi memperbaiki kualitas hidup manusia menuju kualitas yang semakin religius.

Sementara ini keyakinan bahwa Tuhan berada di mana-mana mungkin sebatas keyakinan tanpa didayagunakan lebih lanjut dalam membenahi kehidupan sehari-hari. Beragama bukan sekadar beragama secara formal semata. Beragama itu intinya percaya dan bakti pada Tuhan. Beragama harus dilakukan secara lebih sadar dan berencana, sehingga akan dapat lebih berdaya guna untuk mengatasi berbagai persoalan hidup di bumi ini.

Seperti kepercayaan pada Tuhan hendaknya didayagunakan lebih aktif membangun kesadaran diri. Pernyataan Mpu Kuturan yang menyatakan bahwa Bali adalah Padma Bhuwana. Pernyataan ini mengandung makna bahwa Bali sebagai Padma Bhuwana simbol stana Tuhan Yang Maha Esa.

Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana adalah lambang Padma Bhuwana dalam bentuk arsitektur sakral. Hal ini melambangkan bahwa Tuhan sebagai yang tersuci, tertinggi dan mahakuasa di alam ini. Karena Tuhan sebagai yang tersuci, tertinggi dan mahakuasa di alam ini sangat tidak tepatlah manusia terikat pada dunia ini.

Dunia ini hanyalah media ciptaan Tuhan. Pergunakanlah dunia ini sebagai sarana untuk mencapai kesucian Tuhan. Namun demikian sudah diingatkan di Yajurveda, LX. 1 : Pandanglah dunia ini dengan ketidakterikatan, karena yang langgeng abadi hanyalah Tuhan. Dunia berada pada hukum Tri Kona yaitu Utpati, Stiti dan Pralina.

Ikutilah dunia ini dengan pandangan Tri Kona tersebut. Kalau terikat pada dunia ini umat manusia akan didominasi oleh dinamika Utpati, Stithi dan Pralina itu secara negatif. Gelombang Tri Kona itu sesuatu yang pasti bagi semua ciptaan Tuhan. Manusia harus menerima dengan sadar bahwa semua ciptaan Tuhan itu tidak ada yang lepas dengan hukum Tri Kota itu.

Apa saja yang pernah lahir dan hidup, cepat atau lambat pasti akan mati juga. Semua berada dalam kungkungan ruang dan waktu. Ruang dan waktu ini pun ada di bawah kekuasaan Tri Kona, tidak ada yang langgeng. Suatu saat semua ruang dan waktu itu akan kena hukum Pralaya dari Tuhan.

Ajaran Weda mengajarkan agar manusia terus-menerus berupaya mencari yang langgeng yaitu kebenaran Tuhan Yang Maha Esa. Dengan pemahaman Tuhan itu berada di mana-mana, umat manusia semestinya meyakini bahwa dalam segala aspek kehidupannya Tuhan senantiasa menyertainya.

Karunia akan senantiasa dilimpahkan oleh Tuhan kalau dharma selalu sebagai landasan hidupnya. Derita pun akan dilimpahkan kalau adharma yang dilakukan dalam hidup ini. Sikap hidup yang demikian itu akan menjadi suatu nilai yang utama dalam hidup ini.

Nilai yang diwujudkan adalah nilai menuju kehidupan yang religius. Nilai religius itu adalah sesuatu yang padat makna dengan mendayagunakan unsur rohani sebagai landasan membina kehidupan duniawi. Ini artinya unsur niskala sebagai jiwa kehidupan sekala. Keseimbangan mengaplikasikan niskala dengan sekala sebagai konsep hidup yang didambakan dalam kehidupan ini.

Keyakinan pada keberadaan Tuhan di mana-mana telah menjadi dasar kehidupan sehari-hari, maka karunia pun pasti akan dicapai. Tuhan dalam melimpahkan karunianya melalui dewa-dewa sebagai manifestasinya. Hal ini disimbolkan dalam Balai Pesamuan. Lewat Balai Pesamuanlah disimbolkan Tuhan akan menemui umatnya mencurahkan karunianya sesuai dengan kuantitas, kualitas, kontinuitas dan kapasitas sradha dan bakti umat pada Tuhan.

Tuhan Maha Adil akan selalu melimpahkan karunianya sesuai dengan kadar sradha dan baktinya. Tidak mungkin orang yang berbuat adharma mendapat karunia mulia dalam hidupnya.

Karma dan Watak

OM Svastyastu,
Kiriman : Putra Semarapura
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Hindu&id=139731

Oleh I Made Murdiasa, S.Ag
"KARMA" dapat berarti berbuat. Segala perbuatan ialah karma, dapat pula diartikan sebagai akibat dari perbuatan, yang secara batiniah dimaksudkan bahwa apa yang terjadi sekarang adalah sebab dari perbuatan-perbuatan yang lampau. Dalam falsafah timur dikemukakan bahwa pengetahuan adalah cita-cita atau tujuan hidup seseorang dan kesenangan bukanlah suatu tujuan hidup seseorang. Amatlah keliru jika kita menduga bahwa kesenangan itu adalah tujuan hidup, sebab dari sekian banyaknya kesulitan yang menimpa seseorang di dunia ini ialah karena adanya pikiran yang keliru bahwa kesenanganlah yang harus di kejar. Setiap keadaan suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan merupakan guru-guru bagi kita dalam upaya memperoleh suatu pengetahuan dari pengalaman, yang kemudian akan meninggalkan berbagai kesan yaitu dari baik dan buruk yang akan membentuk "karakter atau watak seseorang".

Dalam setiap kehidupan orang-orang besar, sudah pasti mereka telah menerima pelajaran-pelajaran dari kesusahan bukan dari kesenangan, dan kemiskinan memberikan pelajaran yang lebih berarti daripada kekayaan. Semua pengetahuan baik duniawi maupun rohani, ada di dalam pikiran seseorang. Dalam banyak hal pengetahuan itu tidak diketemukan karena ia tinggal tertutup, bilamana tutupan itu perlahan-lahan di buka maka kita berkata "kita mengetahui", dan kemajuan dari pada ilmu pengetahuan disebabkan oleh kemajuan dari proses pembukaan pikiran. Orang yang lapisan-lapisan pikirannya sudah tersingkap semuanya disebut orang yang sangat mengetahui (Waskita).

Perbuatan-perbuatan besar bisa terjadi karena gabungan-gabungan dari perbuatan-perbuatan kecil, bila kita berdiri di tepi laut dan mendengar gemuruh ombak-ombak yang mendampar batu-batu karang atau gulungan ombak yang besar-besar, padahal gulungan ombak itu terdiri dari jutaan ombak-ombak kecil yang masing-masing membuat suara sendiri-sendiri, hanya kita tak dapat menangkap suara itu, melainkan bila tergabung menjadi satu barulah kita mendengar suara gemuruh.

Jika kita sungguh ingin menimbang watak atau karakter seseorang, janganlah menilai hanya satu pekerjaan luar biasa yang dilakukannya, namun kita harus memperhatikan saat orang itu melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil sehari-harinya, karena itulah yang dapat menunjukan karakter orang yang sesungguhnya. Orang yang sesungguhnya besar adalah dia yang selalu memperlihatkan sifat-sifat agung meski di tempat manapun dia berada dan karakter-karakter itu bisa kita bentuk sejak dini, karena karma yang kita lakukan sekarang ini bisa mempengaruhi karakter kita pada kehidupan mendatang.

Karakter itu sesungguhnya dapat membangkitkan atau menggerakkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri seseorang, jika diikuti dengan kemauan, karena sebagaimana adanya karma, demikian pula perwujudan dari pada kemauan. Orang-orang yang memiliki kemauan besar adalah pekerja-pekerja yang hebat. Dalam Bhagawad Gita dijelaskan "hanya dengan perbuatanlah seseorang itu bisa memperoleh kesempurnaan, karena itu hendaknyalah pekerjaan itu dilakukan untuk pemeliharaan dunia". Perbuatan-perbuatan yang dilakukan itu telah ditentukan oleh karma. Tidak ada seorang pun akan memperoleh sesuatu kecuali ia memang berhak mendapatkannya, inilah suatu hukum abadi. Namun kadang-kadang kita tidak berpendapat demikian, akan tetapi pada kesimpulannya haruslah kita meyakini diri kearah hukum tersebut. Karma kita memberi ketentuan apa yang patut dan apa yang dapat kita lakukan. Kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita laksanakan, apa yang kita inginkan, kita memiliki kemauan untuk menjadi apa yang kita harapkan itu. Jika apa adanya kita sekarang ini sebagai akibat dari penghidupan kita yang lampau, maka hal inipun akan berlaku pada apa yang kita inginkan di kemudian hari, dapat kita bentuk dan kerjakan pada waktu sekarang ini. Kita harus mampu melakukannya secara benar untuk tujuan yang lebih sempurna, karena kelahiran sebagai seseorang adalah suatu kesempatan yang sangat utama dengan diberikannya pikiran sehingga kita mampu berpikir kearah yang lebih baik untuk menolong diri kita sendiri dari kelahiran yang berulang-ulang.

Dalam Bhagawad Gita diterangkan tentang karma bahwa bekerja hendaklah memakai kecerdasan dan secara ilmiah, dengan mengerti bagaimana bekerja secara benar untuk memperoleh hasil yang terbesar. Kita harus tahu bahwa semua perbuatan atau pekerjaan hanyalah pembangkitan dari kekuatan pikiran yang sudah ada, untuk membangunkan sang jiwa.

Bekerja untuk kepentingan pekerjaan, sebagaimana diungkapkan dalam Bhagawad Gita bahwa "pekerjaan yang dilakukan tanpa mengikatkan diri pada hasil akan mencapai tujuan yang tertinggi". Jika seorang bekerja tanpa mengandung tujuan dalam arti mampu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan untuk memperoleh sesuatu, apakah kelak ia akan mendapatkan sesuatu ? Ya. Pastilah ia akan mendapatkan sesuatu yang tertinggi. Tiada mementingkan diri adalah hasil keuntungan yang paling tinggi yang akan diperolehnya, hanya saja jarang orang yang sabar melaksanakannya. Bekerja tanpa mementingkan diri akan menghasilkan kesehatan yang besar pula. Cinta kasih, kejujuran dan tidak mementingkan diri bukan hanya khayalan dalam kata-kata yang kosong, tetapi kebajikan-kebajikan tersebut sesungguhnya membentuk cita-cita hidup kita yang luhur dan mulia, didalamnya terletak kekuatan untuk diwujudkan dalam perbuatan. Siapapun dari kita boleh mengharap, cepat atau lambat jalan perjuangan hidup kita melalui pekerjaan ini, pasti akan tiba saatnya bahwa semua dari kita akan menjadi sempurna seluruhnya dan pada saat itulah kita mencapai suatu keadaan dimana diperolehnya suatu kebahagiaan yang abadi.**

Sekilas tentang Trisandya

OM Svastyastu,
SEKILAS TENTANG TRISANDYA
Jeromangku_sudiada@yahoo.com

Setelah sekian lama Trisandya diperdebatkan dalam HD-Net ini, khususnya mengenai bait yang kedua yang telah dipengal penterjemahannya yaitu : Tuhan yang Tak terlahirkan, Tuhan tidak ternodai, Tuhan tidak terpikirkan dan akhirnya cendrung dipelesetkan : “TUHAN TIDAK ADA” bersama ini perkenankanlah Mangku mengulas sedikit tentang Trisandya, yang sangat kental dengan hidup dan kehidupan kita khususnya yang beragama Hindu, dimana pemujaan Tuhan dengan kata-kata umunya dilaksanakan dengan sembahyang tiap-tiap hari, atau lazimnya dilakukan dengan sembahyang tigakali sehari yang sering disebut dengan istilah “PUJA TRISANDYA” Three = Tiga (3) Sandya = Kala / waktu. Jadi pemujaan yang dilakukan tiga kali sehari dalam kurun waktu tertentu, dipagi hari, siang hari dan sore hari.

Tehknis Puja Trisandya serta Tecks aslinya Mangku akan jelaskan pada kesempatan lain. Mangku akan menjelaskan secara universal purpose dari Trisandya itu mengandung tiga tujuan utama yang terdiri dari :

Bait Pertama dan kedua adalah merupakan ”PENGAJUM” atau memulyakan Bait ke III dan ke IV adalah merupakan ”STATEMENT” pernyataan diri Bait ke V dan ke VI merupakan ”HOPEFULLY” , khususnya permohonan maaf.

Mari kita mulai dari susunan mantram yang ada dalam Puja Trisandya.

Puja trisandya terdiri dari enam kumpulan mantram, mantram pertama disebut Gayatri mantram. Ritmenya-pun disebut dengan Gayatri, sedangkan irama-irama lainya misalnya Anustup, tristup, Canustup, Pragatah, Jagati, sedangka di Bali yang sering di iramakan oleh sulinggih adalah dengan Reng, Ritme Sloka (anak anak sekolah ) dan Cruti perhatikan di Bali TV bait I & II. agak beda dengan bait ke III dan seterusnya

1. Mantram Pertama Didalam Rg Veda III.62.10. Kata Bhur, Bvah, Svaha, tidak ada pada mantram ini, tambahan Bhur Bvah svaha ini didapatkan pada Yayur Veda Putih 36.3.

Gayatri Mantram adalah satu satunya mantram yang sering dilontarkan oleh Ide sang sulinggih, sedangkan yang lainnya adalah merupakan puja stava berupa sloka. Gayatri mantram sering disebutkan sebagai ibu dari semua mantram, atau yang paling mulya, dibawah ini Mangku cuplikan statementnya yang berbunyi sebagai berikut:

”One reason why the Gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that cavable of possessing “dhi” higher intelligence which brings him knowledge, material and transcendental. What the eye is to the body “dhi” or intelligence is to the mind

Wijaksara Om adalah hurup atau prenawa suci dalam agama Hindu, dengan Om seorang brahmana mulai mengucapkan “SEMOGA SAYA SAMPAI PADA BRAHMAN” Savitar Tuhan yang maha mulia, kemuliaan sumber dari cahaya cemerlang marilah kita memusatkan pikiran kepada sumber cahaya, semoga ia memberi semangat.

2. Sloka yang kedua.
Dalam sloka ini pemuja memuja tuhan seluruh sekalian alam, Tuhan suci tidak ternoda, Ia hanya tunggal tidak ada yang kedua. Sloka ini adalah satu dari suatu rangkaian sloka yg panjang disebut dengan Catur Veda Sirah. Ini adalah salinan dari veda Narayanad upanisad, sebuah upanisad kecil. Supaya tidak penasaran Arti dari Bait ke II secara letterlijeknya adalah sebagai berikut.

Tuhan hanya ini, semua yang telah ada, dan yang akan ada, bebas dari noda, Bebas dari kotoran, bebas dari perubahan, tak dapat digambarkan yang maha suci Tuhan satu satunya tidak ada yang kedua.

3. Sloka yang ke III
Oleh Pemuja Tuhan yang tunggal, disebut dengan banyak nama, Iya disebut Siva, Mahadewa, Iswara, Prameswara, Brahman, Wisnu dan Rudra dan..... masih banyak lagi sebutan yang lainya.

4. Sloka yan ke IV. (statement )
Pemuja mengatakan pengakuan dirinya serba kurang, serba hina, serba lemah, Hina lahir dan bathin

5. Sloka yang ke V. ( Permohonan ampun ) Dalam sloka ini atas dosa, dosa, kekurangan dsbnya, pemohon memohonkan agar dilindungi dan dibersihkan atas segala noda.

6. Sloka yang ke VI ( Permohonan ampun dari dosa) Dosa yang keluar dari karya yang dilakukan, dari perkataan yang dilontarkan dan dari pemikiran memohon kepada Tuhan untuk diampuni.

Yah itulah yang Mangku bisa jelaskan dari Puja Trisandya semoga berkenan

Namaste.
MANGKU SUDIADA