Saya dihadang oleh Ngurah Wirawan, mantan Ketua Umum Peradah saat memasuki Pelataran Parkir Pura Halim. ”Sudah beli es teler?” Dengan apa adanya saya jawab belum, karena memang, baru saja sampai di tempat. Lalu diarahkanlah saya menuju penjual es teler di salah satu counter bazar dalam rangka acara Olahraga Gembira 4 Peradah DKI Jakarta. Dengan cekatan lalu Rama dan Dita, dua orang anak yang baru berumur 11 dan 9 tahun menyiapkan dua gelas es teler sesuai jumlah pesanan saya. Disodorkan gelas tersebut dengan menyebutkan harga 4.000 rupiah. Saya serahkan uang 50 ribuan. Mereka saling berpandangan sambil berhitung. Saya goda mereka, Ayo berapa kembalinya?. Berbarengan mereka menyebut 46 Ribu. Lalu sang kasir, merangkap tenaga marketing, merangkap orang tua mereka berdua, Ngurah Wirawan, menyerahkan kembaliannya kepada saya, sambil mengingatkan ”Bilang apa anak-anak”?. Rama dan Dita menyampaikan ucapan terimakasihnya karena saya telah berbelanja. Hari ini mereka membawa 3 ember es teler, dan sekarang sudah hampir habis 2 ember.
Sambil menikmati es teler Rama dan Dita, saya berbincang dengan Ngurah Wirawan. Saya kenal baik dia sebagai seorang pengusaha yang telah malang melintang sejak lama di dunia bisnis infrastruktur dan telekomunikasi di Indonesia. Sambil tertawa dia sampaikan kepada saya, bahwa ini adalah upaya untuk mendidik anak-anaknya punya semangat wirausaha, memiliki insting bisnis, sekaligus yang paling penting tahu kalau bapaknya susah payah cari duit buat mereka. Saya tertawa sekaligus salut akan upaya dini yang telah dilakukannya. Melihat Rama dan Dita membuat saya teringat akan kisah dua teman saya, Adlin dan Peter. Adlin adalah rekan kerja saya, dia berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat sekitar 2 jam dari kota Padang. Peter seorang teman lama di Universitas, beretnis China tinggal di Pluit Jakarta Utara.
Saya tidak akan menyoroti perbedaan mereka baik etnis ataupun agama, tetapi persamaan yang mereka miliki dalam satu hal, semangat wirausaha. Adlin di suatu kesempatan mengisahkan perjalanan hidupnya saat masih kecil. Di saat di berumur 11 tahun, dia sudah dibukakan toko kaset di daerah Bukittinggi. Diberi tanggung jawab mengelola toko oleh orangtuanya mengharuskan dia untuk berbelanja ke Glodok, Jakarta. Berangkat sendiri dengan naik bus ke Jakarta, lalu menuju rumah saudara yang berada di Jakarta. Selanjutnya dia harus berbelanja kaset dari lagu-lagu terbaru. Dari Glodok, dia balik kembali dengan barang belanjaannya ke Sumatera Barat. Kegiatan ini berulangkali dia lakukan di saat libur sekolah sampai SMA, saudara-saudaranya yang lainpun diberikan kesempatan yang sama oleh Ayah Adlin untuk berwiraswasta sejak muda. Dilema muncul di saat lepas SMA dia diterima kuliah di UGM, dengan berat hati diserahkannya toko kaset yang dia rintis kepada salah satu saudaranya.
Di suatu kesempatan kami bersama pergi ke Bukittinggi dan ditunjukkan toko yang dulu dia sempat rintis. Saudara-saudara Adlin juga sudah menjadi pengusaha-pengusaha dengan omzet milyaran, toko toko besar mereka miliki di Jakarta dan Padang. Menurut Adlin yang juga telah menamatkan pendidikannya di UGM, berbisnis ibaratnya sudah menjadi khitah hidup masyarakat Minangkabau yang lebih dikenal sebagai orang Padang. Sambil bercanda Adlin menyajikan fakta, ”Bisnis orang Padang itu bisnis mulia, lho, menghidupi orang lain. Coba lihat, dimana tidak ada rumah makan Padang. Orang lain dihidupinya, orang Padang memetik untungnya.”
Peter lain lagi kisahnya, di kuliah dia telah terkenal sebagai tukang foto copy. Dengan tekun dia menjadi penyedia jasa foto copy catatan ataupun buku secara kolektif. Menurutnya, hal ini telah dia tekuni sejak SMP. Di bangku kuliah dia telah membuka beberapa toko foto copy. Sekarang Peter telah merambah usaha percetakan dalam skala yang cukup besar. Kadang dia harus sabar mengangkat tumpukan-tumpukan foto copy dalam jumlah yang cukup banyak ke ruang kelas, tidak ada sedikitpun rasa gengsi ataupun malu dia perlihatkan. Yang penting ada duitnya, selogan Peter waktu itu.
Adlin dan Peter adalah dua contoh perjuangan wirausahawan yang sekarang telah sukses dengan bisnisnya masing-masing. Kalau mereka berasal dari etnis Padang dan Cina merupakan salah satu pembenaran kita atas sikap ekonomi yang mereka perlihatkan. Pasti kita akan berkata, ”Pantas mereka sukses berbisnis, wong dari nenek moyangnya juga sudah berdagang”. Kegigihan dan keuletan mereka dalam berwiraswasta ternyata tidak turun begitu saja dari langit, mereka ternyata berproses dari kecil. Sangat pantas jika etnis Cina menguasai dunia dan suku Padang bisa menyaingi etnis Cina dalam hal ekonomi di Indonesia. Mengikuti pengalaman hidup mereka, saya jadi berkesimpulan bahwa semangat dan mental termasuk insting wiraswasta adalah terbentuk seiring proses dan waktu. Pasang surut mereka lalui sejak sangat muda, tempaan-tempaan itu yang pada akhirnya membuat mereka sukses dan tahan banting sebagai wiraswasta sukses sampai sekarang.
Bercermin dari diri sendiri, disaat semuda mereka di Bali saya sama sekali belum berpikiran ekonomi. Benar-benar telah menjadi pakem bahwa di usia belajar, sampai tamat kuliah, kita akan menjadi kelompok konsumtif. Menerima usupan dana dari orangtua, lalu menghabiskan untuk keperluan hidup dan sekolah. Bulan depan minta lagi karena sudah habis terpakai, ini berulang terus sampai bekerja. Selanjutnya, setamat kuliah kita memotivasi diri untuk mendapatkan tempat kerja yang paling bagus agar mendapat penghasilan terbesar, bukan berpikir menciptakan opportunity terbaik sehingga membuka lapangan kerja bagi lebih banyak orang.
Rama dan Dita, kader-kader Hindu di masa depan telah memulai tradisi dan gerakan ekonomi sejak dini. Kesempatan yang diberikan, telah mereka manfaatkan untuk mengasah insting dan naluri bisnis. Di siang hari, mereka telah mulai berhitung. Hari ini Rama telah menjual 9 gelas dan dia berhak mendapatkan komisi seribu rupiah atas tiap gelas yang terjual. Alangkah bangganya Rama berhasil mendapatkan 9 ribu rupiah dari keringat dan usaha yang dia tunjukkan. Dengan seribu rupiah, gairah wirausaha telah mulai terbangkitkan, hasilnya dapat diharapkan terlihat ketika mereka telah dewasa. Seandainya lebih banyak lagi yang melakukan dan mendapat kesempatan seperti Rama dan Dita, maka kader-kader Hindu yang memiliki insting bisnis seperti saudara kita etnik Padang dan Cina, suatu saat pasti akan meramaikan dunia usaha dan perekonomian di Indonesia.. Bukankah menjadi Wesya merupakan tawaran pilihan warna yang sama mulianya bagi Umat Hindu ?
Adi Setiawan
Anggota LKPP Peradah* (Lembaga Kajian Penelitian & Pengembangan Peradah)
*LKPP Peradah: Badan otonom Peradah Indonesia yang melakukan kajian strategis serta menghasilkan pemikiran-pemikiran bernas bagi umat Hindu dan Bangsa Indonesia.
waaahhh.... simpati juga ya... rasa kekeluargaaan en kepeduliannya tinggi y k'?
BalasHapus