Brahman (Dewanagari: ब्रह्म) adalah penguasa tertinggi dalam konsep ketuhanan
Hindu. Brahman bersifat kekal, imanen, tak terbatas, tak berawal dan tak berakhir juga menguasai segala bentuk, ruang, waktu, energi serta jagat raya dan segala isi yang ada didalamnya. (id.wikipedia.org/wiki/Brahman)
Pemahaman Tuhan Dalam HinduHindu. Brahman bersifat kekal, imanen, tak terbatas, tak berawal dan tak berakhir juga menguasai segala bentuk, ruang, waktu, energi serta jagat raya dan segala isi yang ada didalamnya. (id.wikipedia.org/wiki/Brahman)
Hindu adalah agama tertua di dunia, Hindu juga menganut kepercayaan "Tuhan yang Satu" yang dalam filsafat barat dikenal dengan istilah Pantheisme. Pan artinya semuanya,Theis artinya Tuhan. Jadi Pantheisme artinya Tuhan yang satu itu adalah semuanya. Satu menjdai banyak
Baik, saya coba jelaskan. Saya bangga menjadi Hindu, ternyata setelah saya kaji ternyata Hindu adalah agama yg rendah Hati dan memiliki sopan santun. Seperti halnya tata krama kehidupan, saya boleh umpamakan, jika anda anak yg punya tata krama terhadap org tua anda tentunya anda akan memanggil bapak/ibu/ayah/bunda kepada org tua anda. Tentu tidak etis/sopan jika anda langsung-langsung memanggil nama org tua anda.
Nah, begitu pula dalam ajaran Hindu dalam memanggil Tuhan juga perlu tata krama / sopan santun.
Dewa Brahma, gelar ini diindahkan ketika Tuhan sebagai sang maha pencipta.
Dewa Wisnu, gelar ini diindahkan ketika Tuhan sebagai pemelihara seisi dunia ini
Dewa Siwa, yakni gelar ini diindahkan ketika Tuhan juga melakukan peleburan dari isi dunia ini
Dari pemaparan ketiga gelar diatas, maka terjadilah banyak pengertian berbeda di tengah maraknya politik saling menjatuhkan agama di masyarakat. Jadinya, bagi mereka yang kurang paham, akan menganggap bahwa Hindu memiliki Tiga Tuhan. Sekali lagi kami tegaskan bahwa istilah ketiga dewa tersebut hanyalah gelar yang diberikan oleh orang bijak.
Dapat dianalogikan Mr.X adalah Seorang Presiden, ketika memimpin negara diberi nama Presiden, Ketika dirumah dipanggil Ayah (oleh anaknya), ketika memiliki cucu dipanggil Kakek (oleh cucunya), ketika yang dipimpinnya merasa bangga, puas akan kepemimpinannya dan cinta maka diberi gelar Bapak pembangunan, Bapak Reformasi dll.. Padahal nama dan orangnya hanya Satu yakni Mr.X
Tapi lebih lucu lagi, ketika analogi semacam ini sering kami diskusikan dengan non-hindu, maka akan muncul komentar-komentar "menyama-nyamakan Tuhan dengan hal-hal tertentu". hmm begitu minikan pemikiran mereka akan filosofi? Padahal sekali lagi ini adalah analogi.
Itulah analogi Tuhan menurut Hindu sangat bijak dengan konsep Pantheisme-nya. Dengan konsep tersebut, maka tidak akan ada peng-ekslusif-an Tuhan, misal seperti yang sering kita dengar; "hanya Tuhan si agama X yg benar!, selain itu Sesat!", "Tiada Tuhan selain "Y"..!" selain " Z", Hanya Agama X yang paling benar, dan si mr.X adalah pembawa yang terahir dan penyempurna dan bla..bla..bla, maka seolah-olah hakekat agama menjadi sebuah "peng-kasta-an" masyarakat seperti yang banyak terdapat dalam ajaran-ajaran agama yang mengakui dirinya Agama Samawi (agama langit).
Tuhan harusnya maha bijak, Mengetahui sebatas mana tingkatan spiritualitas ciptaanNya. Tanpa membatasi dengan sebuah Agama tertentu, terlebih mengEkslusifKan satu Tuhan dan Agama saja, toh manusia lainnya adalah ciptaaNya. Maka sungguh tidak komitmen rasanya Tuhan yang menyuruh berpindah ke agama X agama terahir dibawa oleh utusan akhir jaman, agar masuk Sorga. Harusnya ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini sudah faham dan Tuhan sudah sangat sempurna untuk menciptakan "Panduannya" juga atau kita kenal dengan istilah religion, atau Hindu menyebutnya dengan "SanatanaDharma"
Janggal rasanya jika hanya dengan menganut agama tertentu, maka akan dijamin mendapat sorga. Hindu pun tak menjamin, namun hindu menuntun setiap manusia untuk wajib berjuang dan berusaha untuk mencapaiNya. Bukan Sorga, tetapi Moksa (penyatuan Atman(roh) dengan Brahman(Tuhan).
Sementara Sorga (svarga) adalah level yang jauuh lebih rendah dari Moksa. Dan lebih kronis lagi agama yang menjanjikan Sorga bahkan tak memiliki istilah/kata Sorga dalam kitabnya, dimana Sorga tadi berasal dari bahasa sansekerta "Svarga" begitu juga dengan istilah Neraka, yang aslinya adalah Naraka dalam sansekerta.
So janganlah mudah tergiur dengan janji-janji Sorga, untuk pindah keyakinan..
Salam damai..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar